Nov 19, 2016

Yuk, Menanam Okra di Rumah!

Halo, apa kabar? Semoga semuanya selalu dalam keadaan sehat, ya. Percobaan berkebun dalam pot ala-ala kali ini adalah... (drumroll please) tanaman okra! Saya pertama kali mendengar kata "okra" saat menonton film fiksi ilmiah Interstellar tahun 2014. Singkatnya, pada awal film dijelaskan bahwa bumi yang semakin tidak layak huni sedang dilanda krisis pangan dan untuk bertahan hidup umat manusia harus bertani. Sementara itu, badai debu dan bencana hawar terus menghancurkan ladang pertanian. Okra dan jagung adalah dua tanaman pangan yang tersisa untuk umat manusia, sebelum akhirnya okra terkena serangan hawar dan menyisakan jagung menjadi satu-satunya tanaman pangan yang bisa bertahan. Namun, keadaan bumi semakin memburuk dan jagung pun ikut terancam. Salah satu harapan terakhir adalah dengan mencari planet lain yang bisa ditinggali manusia. Sungguh film yang begitu epik dan keren sekali!

Saya pun menjadi penasaran dan merasa sedikit ketinggalan zaman. Sejenis tanaman apakah okra hingga disebutkan dalam sebuah film besar Hollywood? Bagaimana rasanya? Bisa didapatkan di mana, ya? Baiklah, saya memutuskan berselancar di dunia maya untuk menggali informasi mengenai tanaman ini.


Okra atau bendi dengan nama ilmiah Abelmoschus esculentus adalah sejenis tumbuhan berbunga dari famili Malvaceae atau kapas-kapasan yang menghasilkan buah (polong) untuk dikonsumsi. Tumbuhan ini memiliki nama lain okro, gumbo dan lady's fingers karena bentuknya menyerupai telunjuk wanita dengan ujung runcing (tapi sepertinya lebih mirip jari penyihir ya, hehe). Asal tanaman ini sendiri masih diperdebatkan, sebagian mengatakan dari Asia Selatan dan sebagian lainnya mengatakan dari Afrika Barat. Namun, okra diyakini berasal dari suatu wilayah di Abissinia kuno atau yang kini dikenal dengan Ethiopia, lalu menyebar menuju Arab, Afrika Utara, timur Mediterania dan India. Bangsa Mesir dan Moor membudidayakan okra pada abad ke 12 dan ke-13, sementara okra tiba di Amerika Serikat sekitar abad 17. Kini, okra sudah ditanam di hampir seluruh belahan dunia yang beriklim tropis dan sub-tropis. Okra juga dikenal luas di negara-negara Asia Tenggara, tetapi kurang begitu dikenal di Indonesia. Terlepas dari tekstur buahnya yang berlendir saat dimasak, okra banyak digemari masyarakat dunia karena sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Tahun 2015 lalu, saya beberapa kali menemukan okra segar di pasar swalayan di Jakarta. Karena suatu dan lain hal, saya malah lupa untuk membelinya. Kebetulan pada awal 2016, saat sedang asyik mengecek Instagram, ada unggahan penjual benih yang muncul di linimasa saya. Wah, biji okra! Langsung saja, saya pesan dua varietas okra dan berbagai benih lainnya. Saya pun tidak sabar untuk menanamnya. Akibat intensitas hujan pada bulan Januari masih tinggi, saya menunda penyemaian hingga pertengahan Februari.

Lahan rumah yang sangat sempit tentunya tidak menjadi penghalang bagi pekebun pemula seperti saya, apalagi okra dapat ditanam dalam pot dan tidak mengambil banyak ruang. Menurut penjual, okra yang saya beli termasuk kultivar dwarf, sehingga sangat cocok untuk ditanam di pot. Sebelum proses penyemaian dimulai, biji direndam lebih dulu dalam air selama ± 12 jam. Lalu, siapkan media tanam yang akan digunakan, saya pribadi menggunakan media tanam siap pakai dan rockwool. Karena tidak punya wadah semai (seedling tray), saya menyemai benih di pot kecil yang tersedia di rumah saja, asalkan terhindar dari serangan kucing-kucing Mama. Satu benih masing-masing ditanam dalam satu pot. Pesemaian dapat diletakkan di tempat terbuka yang terkena sinar matahari cukup, sebab suhu tanah yang hangat akan membantu proses perkecambahan biji. Namun, pesemaian tersebut harus tetap terlindung dari terpaan air hujan dan angin kencang. Biji okra akan berkecambah dalam waktu sekitar 5-10 hari.

Sebelah kiri adalah bibit okra merah, sementara yang kanan adalah okra hijau

Bibit okra yang telah mencapai tinggi 15 cm atau telah memiliki empat daun sejati dapat dipindahkan ke pot atau polybag dengan diameter minimum 25 cm. Saat transplantasi bibit, pastikan tidak melukai atau merusak akar. Gunakan campuran tanah gembur, kompos, pupuk kandang dan sekam; pastikan media tanam ini memiliki aerasi dan drainase yang baik. Okra sangat cocok pada jenis tanah geluh dan berpasir, maka hindari tanah lempung atau lengket karena bersifat kurang porous. Tanaman ini tumbuh dengan baik pada temperatur antara 25-35°C dan membutuhkan sinar matahari penuh setidaknya enam jam setiap hari untuk dapat berbuah. Oleh sebab itu, letakkan pot di tempat terbuka yang tidak ternaungi. Siram sebanyak dua kali sehari, kecuali saat hujan. Okra sangat tahan terhadap cuaca panas dan kekeringan, tetapi tidak tahan genangan air.

Meskipun akan tumbuh baik-baik saja di kebun dengan tanah yang kaya nutrisi, tanaman okra yang ditanam dalam pot tetap memerlukan nutrisi tambahan dari pemupukan berkala. Mulai usia empat minggu, tanaman sudah dapat diberikan pupuk kandang dan kompos setiap satu bulan sekali. Pupuk rilis lambat seperti NPK, guano, dan pupuk lainnya dengan kandungan fosfor dan kalium tinggi dapat diberikan setiap dua minggu sekali sesuai dengan petunjuk penggunaan. Begitu pun dengan pupuk daun yang dapat disemprot setiap satu minggu sekali.

Tanaman okra juga tidak terlepas dari hama dalam famili kapas-kapasan, yakni penggerek buah dan pucuk (Earis vittella), penggerek buah (Helicoverpa armigera), ulat penggulung daun (Sylepta derogata), wereng kapas (Amrasca biguttula biguttula), dan hama yang biasa dijumpai pada tanaman lainnya, seperti kutu kebul (Bemisia tabici), kutu daun (Aphis gossypii), kutu putih (Phenacoccus solenopsis), tungau laba-laba merah (Tetranychus urticae), serta nematoda puru akar (Meloidogyne incognita). Selain itu, penyakit yang disebabkan oleh cendawan antara lain rebah kecambah, layu fusarium, embun tepung, dan bercak daun. Dua tanaman okra yang saya tanam masing-masing terkena serangan nematoda yang mengakibatkan pertumbuhannya tidak normal dan bercak daun menyebabkan daun cepat menguning dan gugur. Karena serangan cukup parah dan sama sekali tidak menggunakan pestisida, maka keduanya terpaksa dicabut dan dibuang.


Untuk kultivar dwarf, tinggi okra hanya berkisar 1-1,2 meter sehingga tidak perlu dilakukan pemangkasan tanaman. Okra akan mulai berbunga memasuki usia dua bulan, walaupun pada awalnya bunga akan mengalami kerontokan. Bunganya sangat cantik, berbentuk terompet dan berwarna putih kekuningan dengan warna merah keunguan di tengahnya. Sekilas mirip dengan kembang sepatu, wajar saja sih karena mereka memang masih satu famili. Bunga hanya mekar pada pagi hari dan akan menutup lalu rontok setelah terjadi penyerbukan pada hari yang sama. Jangan khawatir, okra termasuk tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri jadi kita tidak perlu repot membantu proses penyerbukan. Kemudian, bakal buah berwarna hijau akan muncul  dari balik bunga yang kering. Pada hari kedua, bakal buah okra merah akan mulai berubah warna menjadi kemerahan. Buah muda dapat dipanen pada 4-6 hari setelah berbunga dengan panjang polong ideal sekitar 7-11 cm. Jangan sampai terlambat untuk memetik karena polong akan menjadi berserabut, hambar, dan terlalu keras untuk dikonsumsi. Okra harus dipanen secara berkala setiap dua hari sekali agar tanaman selalu produktif. Gunakan pisau atau gunting tajam untuk memanen. Beberapa orang mungkin akan membutuhkan sarung tangan saat memetik karena daun dan polong okra memiliki bulu-bulu halus yang dapat mengiritasi kulit.


Okra segar cenderung mudah rusak apabila disimpan terlalu lama. Polong tidak dapat bertahan lebih dari tiga hari di dalam lemari pendingin, sehingga begitu dipanen harus segera dikonsumsi. Okra telah lama populer sebagai makanan sehat karena memiliki kandungan serat, vitamin A, B, C, K dan asam folat yang tinggi. Serat yang tinggi membantu menstabilkan gula darah dalam tubuh dan menurunkan resiko kerusakan ginjal, sehingga baik untuk dikonsumsi pejuang diabetes. Okra dapat pula digunakan untuk mengobati masalah pencernaan. Polisakarida yang terdapat dalam polong okra muda sangat baik untuk lambung dan mampu menurunkan kadar kolesterol, begitu pun dengan serat yang ditawarkan okra membantu membersihkan sistem usus besar agar dapat berfungsi secara efektif. Mineral penting, seperti zat besi, kalsium, kalium, mangan, dan magnesium juga ditemukan dalam okra. Selain untuk kesehatan, okra juga bermanfaat untuk kecantikan karena mengandung antioksidan tinggi. Sebenarnya masih banyak sekali kebaikan okra bagi tubuh, namun rasanya tidak cukup untuk ditulis semua dalam postingan ini. 

Lalu, apa sih perbedaan okra merah dengan hijau? Selain dari warna, tidak ada perbedaan yang mencolok. Keduanya memiliki rasa dan khasiat yang sama. Bahkan saat dimasak, polong okra merah akan berubah menjadi hijau. Namun, okra merah mentah dapat ditambahkan untuk menambah warna pada hidangan. Polong okra muda dapat dimakan mentah dan dijadikan berbagai olahan masakan, misalnya direbus, dipanggang, ditumis, digoreng, dibuat sup, acar dan salad, serta cocok untuk dicampur bersama sayuran lainnya. Lendir berupa polisakarida yang terkandung dalam okra dapat berfungsi sebagai bahan pengental masakan dan pengganti putih telur. Okra juga dapat disajikan sebagai minuman, seperti jus, smoothie, dan infused water. Favorit saya tentu saja dimakan langsung dan infused water. Wah, rasa okra yang baru dipetik ternyata sangat segar, renyah dan sedikit manis! Dibuat goreng tepung pun enak. Memasak okra tidak boleh terlalu lama karena akan menyebabkan okra semakin lembek dan berlendir. Selain itu, hindari memasak okra di peralatan yang terbuat dari tembaga, besi dan kuningan. Reaksi yang terjadi antara okra dan logam tersebut akan mengakibatkan warna polong memudar dan menggelap.

Untuk memanen benih okra, tunggu sampai musim tanam berakhir. Kultivar dwarf mampu bertahan antara 6-8 bulan. Biarkan polong hingga menua dan mengering di pohon, biasanya polong ditandai dengan warna coklat, keras dan telah retak. Biji pun telah berwarna gelap kehitaman. Petik dan keringkan polong pada udara terbuka di bawah sinar matahari selama beberapa hari. Setelah itu, bersihkan dan pisahkan benih dari kulit dan kotoran lainnya. Benih dapat dikemas dalam wadah atau stoples kedap udara yang telah diberi gel silika. Simpan di tempat yang kering dan sejuk atau dalam lemari pendingin. Benih okra dapat bertahan hingga tiga tahun, meskipun semakin lama tingkat germinasi akan semakin menurun.


Omong-omong, saat lebaran kemarin, ternyata banyak kerabat yang tertarik setelah mendengar segudang manfaat okra dan ingin mencoba menanam di rumah mereka. Syukurlah, saya sudah menyetok benih okra hijau dan merah dari hasil panen sendiri hehehe. Satu bulan setelah itu, saya dikabari bahwa tanaman okra mereka sudah tumbuh. Bahkan dua minggu lalu, saya diberikan satu pot penuh berisi bibit okra hasil panen perdana mereka sebagai balasan terima kasih, katanya. Terharu sekali deh, okra yang saya tanam sudah beranak cucu dan bisa bermanfaat untuk orang-orang. Padahal saya pun menanam okra hanya untuk iseng-iseng saja. Yup, menanam okra memang semudah itu. Meskipun harga okra di pasaran cukup terjangkau (biasanya 10.000 rupiah/pak), tetap saja okra hasil panen sendiri rasanya jauh lebih enak dan segar ketimbang membeli di pasar. Kadang-kadang okra yang dijual sudah layu, alot dan sangat hambar. Apalagi, di rumah bisa langsung petik sendiri. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, menanam okra di rumah!
Okra Diseases (pdf)
Share:

Aug 21, 2016

Over the years of my (K-pop) fangirl life..


From teens to adults, everyone can fangirl over someone/something (be it a movie, book, anime, band or artist) and they have probably done it at least once in their lives. Most people started stanning in their teen, and so did I. Like most teenagers, I literally fangirled over everything and K-pop was one of them. Just a little flashback, my first exposure to K-pop happened a long time ago; way back in 2008 when I was 15. K-pop started out as a guilty pleasure for me and I used to be so obsessed with it. You know that amazing overwhelming feeling you get when you discover something great? Basically, I just liked the music. Yeah, K-pop songs were pretty catchy and unique. But I'm not gonna lie, K-pop was indeed full of eye candy and talent that will leave us in awe all day. It had a wide range of concepts, styles, and genre to enjoy. The music videos were aesthetically pleasing and beautiful. Not to mention the jaw-dropping dance moves and the fantastic stage performances. The whole package had brought me joy on so many levels haha.

I religiously followed everything about my fave groups; their latest news and activities. You know, the teenage fangirl stuff (checking out their SNS, watching their shows, buying merchs, and joining forums). Everything about them just grew on me. I even stayed up all night until 5 AM only watching random K-pop videos on YouTube. Every comeback had me jumping in excitement. Needless to say, I was in full fangirl mode.

*
*
*

My, how time flies. I've been into K-pop for 8 years or so now, and a lot has happened since then. Today, old groups start dying out and it's only a matter of time for them to announce their disbandment. Meanwhile, new idol groups keep popping out are being debuted almost every week. I don't know if it's only me, but I can't really get into rookies for whatever reason. Nothing much draws me in. It just feels weird stanning idols younger than me..it's probably a sign that I'm getting too old for fangirling over them lol. All the overly cute concepts (especially for boy groups) sometimes make me cringe. Not a lot of groups are bringing something refreshing and new. I'm not saying that every group looks like a carbon copy of each other, but they are more or less the same. On the bright side, the new generation of K-pop is rising and it's completely undeniable.

In truth, I gradually lost interest in K-pop and I kind of feel bad for it. As I'm growing up, I realize that my real life is too consuming and I almost got no time to fangirl like before. I no longer follow K-pop as much as I used to. I already stopped checking up on my favorite groups and any news related to them because I barely care for it anymore. Yes, I've officially downgraded myself from fandom trash to a "casual listener". My mom said fangirling was just a phase of life (sort of, maybe); as we grow older, it decreases naturally. Obviously, there also comes a point in our life where we'll lose interest in these certain things. It doesn't mean that the scene is getting boring, though. It just naturally happened. I may be an old fan, that's why I feel this way. I know it doesn't makes sense, but well.. Over the years of my (K-pop) fangirl life, I'm just going to stop right here. 

I don't regret fangirling over K-pop one bit because honestly it made my life more exciting and fulfilling. Fangirling was like some kind of stress relief to me besides reading, drawing and coloring. Thanks to it, I also met some great people (online) who share the same interests as me. I don't care what anyone says, but becoming a fangirl was the best thing that has ever happened to me. Looking back, there were so many priceless moments and unforgettable memories that I'd remember for life. Smiling, screaming, crying, squealing, jumping, dying.. All the feels! I can't even imagine my life without it. One thing, though, I still can't believe I finally stopped fangirling over my bias groups. I still love them, anyway.

At the end of the day, K-pop is just like any other genre of music. I still like jamming listening to my favorite groups.. It is fun, however it just doesn't feel the same anymore. It's really hard to say, but this would probably be my last post related to K-pop. I think I'll get over it at some point in my life. Whenever that will be..

Share:

Jul 5, 2016

Webtoon: Winter Woods


From LINE WEBTOON:

A few thousand years has passed since an alchemist created Winter. He is now living with Jane learning what it means to be alive as a human.

I didn’t expect this webtoon to do this to me.

I’m not even a big manga or manhwa person, but Winter Woods? Yeah, I’m completely hooked. I discovered this gem about a year and a half ago, and since then, my weekly routine is basically just waiting for the next update on LINE WEBTOON. It’s a mix of fantasy, supernatural, and romance, and honestly, it’s unlike anything I’ve ever read!



The story is so unique. It’s about "1001," a boy created by an alchemist thousands of years ago. It has such a strong Edward Scissorhands and Tim Burton vibe (and you guys know I love Tim Burton!). Winter is so innocent and literally knows nothing about the world. Watching him meet Jane and start living with her to learn "how to be human" is just everything. Jane even gave him the name Winter Woods. How cute is that?!


To go with the Frankenstein-ish theme, it's so interesting how Winter is actually quite different from us. Moreover, Winter's heart doesn't beat like a normal human being, so he is actually considered undead. It’s crazy to think about, but it makes his journey to find "life" even more meaningful!

As the chapters go on, everything just gets so much more intense. I’m honestly trapped in this plot! It’s not just a simple romance; there’s a much darker side to it with twists I never saw coming. I love how it blends slice-of-life moments with this deep journey of self-discovery. It really has a bit of everything. It’s creepy, funny, gothic, and it’s always wrapped in mystery. Every single chapter gives me so many feels because it’s such a complete mix of emotions. What I love most is how the story transitions from being dark and creepy to being absolutely adorable. It successfully teeters on that fine line between "creepy" and "cute" in the most wonderful way.

Everything just feels so warm here.. I think love is finally in the air.

And can we talk about Winter for a second? I’ve always had a soft spot for male leads, but Winter is special. He isn't exactly the "cool" or "sweet" guy, but he’s so gentle, shy, and incredibly huggable! Oops! ☃️ Seeing him try so hard to be "normal" and wanting to be loved just makes me want to give him a giant hug. Even all the side characters are so well-developed; everyone has their own secrets and they’re all connected somehow.

Look, he’s looking so much more alive lately. It’s like the color is finally bleeding back into his world.

Also, THE ART!! Van Ji is a genius. The artwork is so stunning and captivating, easily some of the best I’ve ever seen in a webtoon. I love how Winter starts looking "more colorful" and less pale as he learns more about emotions. It’s so visual and beautiful!

Since this webtoon is still ongoing, I honestly can’t say much about how it will end. I’m just crossing all my fingers and hoping for a happy ending, because I don’t think I’m emotionally ready for anything tragic. Oh, and one last thing: I really, really hope Winter finally grows some eyebrows! Seeing him dream about them was so heartbreaking but also kind of funny. But hey, with or without eyebrows, he’s still wonderful to me!
It’s actually so sad how much he wants eyebrows. Seeing this happen only in his first dream.. it hurts ☹️

Winter Woods is one of those stories that quietly sneaks into your heart and refuses to leave, and honestly, I don’t want it to.

Rating: 9.8/10 (Ongoing and I ❤️ IT!)
Share:

May 29, 2016

Just Breathe

The music starts. The room goes quiet. I’m still holding it. That one breath from years ago. I’ve kept this breath tucked away for so long it’s started to feel burned. Now, I’m not sure I remember how to move the air out without it hurting. On the outside, I’m fine. I show up. I smile. I do the stuff people expect. Easier that way. But inside, it’s heavy. Silent. Tiring. No one sees it. I don’t really want them to. Then Lee Hi sings. Words Jonghyun wrote. Her voice doesn't fill the space, it just echoes through it. It’s the first time the quiet hasn’t felt like a threat.


There’s a kind of tired that comes from pretending you’re okay. You spend all your energy acting normal. Drains you. Jonghyun gets that. He talks about the “heavy breath.” Most people think a sigh is just an end to a thought. I see it as a leak. A bit of the pressure escaping because I’m just.. done holding it.

He doesn’t ask why I’m sad. He doesn’t say “it gets better.” He just.. notices. Even breathing is hard sometimes. And yeah. It really is. The chorus hits: “I can’t understand the depth of your sigh, but it’s okay. I’ll hold you.” Honest. Simple. He doesn’t know my pain. He just knows it’s heavy. And that’s rare. Someone there, not fixing, just staying. By the end, I let the air go.  Jeongmal sugohaessoyo. You did well. Not for what I did today. For being here. Still breathing. Still holding on, even if nobody knows. I’ll sit. And breathe.

Share:

May 12, 2016

Stockholm, 2016

Image: kstudio on Freepik

The email is open on my screen, looking like a joke I’m not supposed to get. At the top, the college crest I’ve always dreamed of. The header is crisp, the message is clear: I made it. I can almost smell the cold air of a city I’ve only seen in pictures. Stockholm. The only thing I’ve wanted since high school.

God. The blue light feels too bright in this dark room. I spend years romanticizing the "escape," convinced that a plane ticket to Sweden will finally fix the person I am becoming.

Then I hear him in the other room.

The man who taught me how to speak is currently arguing with a ghost in the mirror. 2015 was the stroke and the dementia. He is running out of words, and today, my name doesn’t make the cut. People love to talk about "ambition" like it exists in a vacuum. But hustle is a luxury for people with healthy parents. For the rest of us, "winning" is just another word for abandonment.

I’m not a martyr. But an anchor.

I close the tab and shove the laptop away into a pile of textbooks. All that expensive paper—it’s just trash now. I look at the door. I’m not going anywhere. Just back to where I’ve always been.

I don’t tell anyone. I’ll let them think I have no plans. I’m the youngest, the last one left in the house. I’m the one who has to stop living. My dreams are just stories no one cares about. I can’t leave them like this, even if staying means I have to kill my own future.

No, it doesn't feel like a sacrifice. There is no pride in it. Just a heavy, hollow thud in my gut.

So I’m staying. Not because I’m a "good person," but because I can’t live with the silence if I leave. I am an anchor that has stayed underwater for too long. I’m not holding the ship anymore; I’m just becoming part of the seabed. And maybe that’s the most honest thing I’ve felt in years.
Share:

Apr 26, 2016

Staring Emptily into the Distance

I was wondering what you were thinking, Ken?
Share:

Apr 22, 2016

Red, Ripe Bolivian Rainbow Peppers

Cutie!

Share:

Jan 26, 2016

Mengenal Chaya: Si Pepaya Jepang yang Sebenarnya Bukan Pepaya


Update – November 2017

Setelah dua tahun tidak lagi menanamnya, barulah saya tahu kebenaran tentang tanaman ini. Agak lucu juga, ternyata selama ini saya ikut salah sebut.
Mei lalu, seorang teman pena membaca tulisan ini dan memberikan info sekaligus mengoreksi saya. Akhirnya, misteri nama asli tanaman ini terjawab. Alhamdulillah, ya.

Kilas Balik 2015: Perkenalan Pertama

Akhir 2015, saya dibawakan sepuluh batang tanaman yang dikenal sebagai daun pepaya jepang. Daunnya mirip pepaya biasa (Carica papaya), tapi ukurannya lebih kecil. 

Soal rasa? Sama sekali tidak pahit. 
Cocok sekali untuk campuran tumis ikan teri, direbus sebagai lalapan, atau dibuat sayur urap. Mirip daun singkong, tapi versi juara. Teksturnya lebih renyah, empuk, dan tidak alot. 

Ibu saya, entah kenapa, nekat menyeteknya. Batang dipotong sepanjang 30 cm, lalu ditancapkan ke pot. Jujur saja, awalnya saya skeptis. Dalam kepala saya waktu itu: mana mungkin pepaya tumbuh dari stek batang? Tapi seminggu kemudian, tunas baru mulai muncul. Tiga minggu? Daunnya sudah rimbun, hijau muda, dan terlihat segar.

Pengalaman Pribadi Menanam Chaya di Pot

Meskipun batang terlihat langsing, chaya kokoh dan daunnya cukup rimbun. Karena ditanam di pot dan sering dipangkas, tinggi tanaman tetap terkontrol. Rasanya menyenangkan deh bisa memanen sendiri, seperti dapat hadiah kecil dari tanaman yang kita rawat diam-diam.

Menurut pengalaman saya, chaya tidak butuh perawatan khusus:
  • Ketahanan: Tahan cuaca panas maupun hujan. Saya jarang menjumpai hama. Tapi kalau hujan terus-menerus, satu pot saya pernah busuk. Pelajaran penting: jangan terlalu banyak air di awal penanaman.
  • Penyiraman: Cukup dua kali sehari saat cuaca terik.
  • Pemupukan: Pupuk kandang atau pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) seperti NPK sebulan sekali, dosis menyesuaikan ukuran pot.
  • Masa Panen: 1,5 bulan setelah stek, daun sudah bisa dipetik. Selanjutnya bisa dipanen setiap bulan.
Hati-hati Getah: Saat panen, jangan sampai terkena getahnya karena bisa memicu rasa perih dan gatal, terutama pada kulit sensitif. Cukup cuci dengan sabun, dan rasa gatalnya akan berangsur hilang.

Stek pepaya jepang di pot. Satu pot sempat mati karena busuk akibat hujan yang datang terus-menerus

Meluruskan Salah Kaprah soal “Pepaya Jepang”

Waktu itu, info tentang tanaman ini masih sangat langka. Jadi wajar kalau saya, dan mungkin banyak orang lain, ikut salah kaprah. Nama asli tanaman ini adalah chaya, atau bayam pohon (Tree Spinach). Nama ilmiahnya cukup bikin dahi berkerut: Cnidoscolus aconitifolius.

Chaya, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai pepaya jepang, nyatanya bukan pepaya dan jelas bukan dari Jepang. Nama itu kemungkinan hanya trik pasar supaya terdengar eksotis. Mirip kasus pepaya bangkok atau california yang sebenarnya hasil pemuliaan dosen IPB, tapi sering dilabeli impor. Kita memang sering terjebak label, bukan?

Chaya berasal dari Semenanjung Yucatán, Meksiko, dan sudah menjadi makanan favorit bangsa Maya selama berabad-abad. Tanaman ini adalah semak menahun yang tumbuh cepat dan besar.

Menariknya, Chaya punya beberapa subspesies.
  • Chaya Brava: tumbuh liar, duri halus
  • Chaya Mansa: dibudidayakan tanpa duri
Grup kultivar Chayamansa dibagi lagi menjadi empat jenis berdasarkan bentuk daun: Chayamansa, Estrella, Picuda, dan Redonda. Sepertinya yang saya tanam adalah kultivar ‘Picuda’, makanya bentuk daun yang kita temui kadang berbeda.

Chaya berkerabat dekat dengan singkong (Manihot) dan jarak pagar (Jatropha), semuanya dalam keluarga Euphorbiaceae. Jadi wajar kalau batangnya mengeluarkan getah putih yang agak menyengat. Kalau memanen atau memangkas, sarung tangan wajib dipakai ya!

Chaya di pot yang lebih besar.

Nutrisi dan Keamanan

Daun chaya sering disebut superfood. Kandungan zat besinya lebih tinggi dibanding bayam, serta kaya kalium, kalsium, dan vitamin A. Banyak yang percaya chaya membantu melancarkan sirkulasi darah, menjaga kolesterol, dan punya segudang manfaat lainnya.

Namun, seperti singkong, daun chaya mengandung glikosida sianogenik yang bersifat racun.

Cara Mengolah Chaya yang Benar

  • Rebus minimal 5–20 menit agar racun menguap.
  • Jangan gunakan panci aluminium karena bisa memicu reaksi beracun dan menyebabkan diare.
  • Rebus tanpa menutup panci agar gas HCN bisa keluar, dan hindari menghirup uapnya.
Air rebusannya sering disebut menyehatkan karena kaya vitamin C. Jika masih ragu soal sisa toksin, tidak ada salahnya memilih untuk tidak mengonsumsinya.

Inspirasi Menu Chaya

Selain menu Indonesia, daun chaya bisa diolah menjadi banyak hidangan: sup, sayur, nasi goreng, pasta spageti, salad, lasagna, hingga pizza. Chaya juga bisa dijadikan minuman seperti teh, jus, atau smoothie. Karena masih ada silang pendapat soal aman atau tidaknya dikonsumsi mentah, jadi memang sebaiknya daun direbus dulu.

Bunga chaya

Panduan Lengkap Propagasi (Cara Menanam)

Chaya tidak menghasilkan biji atau buah. Ia biasanya hanya berbunga putih yang berubah menjadi polong (seed pod), lalu rontok dengan sendirinya. Pembiakan hanya bisa dilakukan melalui stek batang:
  • Media Tanam: Stek batang sepanjang 15–60 cm di pot atau tanah. Buang semua daunnya, siram teratur.
  • Drainase: Jangan terlalu basah, batang stek sangat rentan busuk.
  • Lingkungan: Suka sinar matahari penuh, tumbuh optimal di temperatur 25°C ke atas, ketinggian 0–1000 mdpl.
  • Kondisi Tanah: Bisa tumbuh di segala jenis tanah. Pupuk opsional, tapi daun akan lebih lebat jika diberi pupuk.
  • Jarak Tanam: 1–2 meter jika di lahan terbuka; jika ingin sebagai pagar hidup, cukup 1 meter antar tanaman.
Chaya bisa tumbuh sampai 6 meter, tapi mesti rajin dipangkas di bawah 2 meter agar tetap setinggi manusia dan mudah dipanen.

Sekarang daun chaya mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga terjangkau. Bibitnya pun banyak dijual online. Coba tanam di rumah, selain untuk sayuran, juga cantik sebagai pagar hidup.

Itulah sedikit cerita dan pengalaman saya menanam chaya, tanaman yang selama ini kita kenal sebagai “pepaya jepang”, padahal bukan pepaya, dan jelas bukan dari Jepang, ya!

Buat saya pribadi, chaya bukan cuma soal nama atau kandungan gizinya, tapi soal pengalaman kecil di rumah: menyetek batang, menunggu daun pertama muncul, lalu memanennya untuk dimasak bersama keluarga.

Kalau kamu pernah menanam atau mengolah chaya dengan cara yang berbeda, silakan berbagi di kolom komentar. Siapa tahu, dari cerita-cerita kecil seperti ini, kita bisa mengenal tanaman di sekitar kita dengan cara yang lebih dekat ☺
Share:

Total Pageviews