Jul 2, 2018

Mudahnya Menanam Cabai Pelangi Razzamatazz

Hai, semua!

Kebetulan beberapa hari yang lalu ada yang bertanya apakah saya masih memiliki bibit cabai pelangi atau tidak. Sayang sekali, tapi sudah satu tahun belakangan ini saya tidak menanam cabai lagi. Bicara soal cabai pelangi, saya pun jadi teringat dengan artikel ini deh, sayang kalau hanya bertahun-tahun teronggok dalam draf. Jadi, tahun 2015 silam, penjualan benih cabai unik dan hias secara online benar-benar marak dan menjamur di tengah masyarakat. Mulai dari cabai berwarna pelangi, hitam, dan cabai dengan bentuk-bentuk aneh lainnya. Penasaran akut dengan bagaimana rupanya, saya tak mau ketinggalan dong untuk ikutan menanam cabai hias di rumah. Akhirnya saya pun memesan berbagai jenis benih cabai unik dari beberapa penjual. Dari sekian banyak cabai yang dicoba untuk ditanam, salah satu yang berhasil tumbuh besar adalah cabai razzamatazz.


Sekilas mengenai cabai ini, razzamatazz adalah varietas cabai dalam genus Capsicum dengan nama ilmiah Capsicum annuum longum group. Sebagai tanaman menahun (perennial plant), varietas ini dapat bertahan hingga lebih dari dua tahun. Razzamatazz memiliki tipe pertumbuhan pendek (dwarf) dengan tinggi sekitar 30-50 cm sehingga ideal untuk ditanam dalam pot atau polybag. Tanaman ini menghasilkan buah yang produktif, cabainya tumbuh menjulang menghadap langit dan berdiri tegak pada tangkainya. Buahnya berwarna-warni dengan warna menyesuaikan tingkat kematangan dari cabai tersebut. Warnanya akan berubah dari ungu tua saat muda lalu menjadi merah menyala ketika masak. Begitu pula dengan tingkat kepedasannya yang  akan semakin meningkat.

Bagi saya, cara menanam cabai razzamatazz sama saja seperti menanam cabai pada umumnya. Mengikuti beberapa saran agar benih direndam dulu sebelum disemai, maka saya rendam benih cabai tersebut selama dua belas jam dalam air irisan bawang merah. Untuk penyemaian, saya hanya menggunakan media tanam siap pakai agar tidak repot dipindah saat sudah berkecambah, lalu pesemaian tersebut langsung diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari penuh. Boleh juga menggunakan metode penyemaian dengan media rockwool dan tissue atau kain yang dibasahi. Tidak masalah, kok. Dalam kurun tiga hari (biasanya lima hari hingga dua minggu), benih yang ditanam sudah berkecambah. Bibit cabai siap pindah tanam dari pesemaian ke pot atau tanah pada usia 14 hari atau bila tanaman telah berdaun 2-4 helai dengan tinggi 10 cm. Jangan sampai terlambat dipindah tanamkan karena dapat menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai itu sendiri. Persiapan media tanam sangat penting sekali terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Media tanam yang saya pakai adalah campuran tanah gembur, sekam, dan pupuk kandang. Diameter pot yang digunakan sebesar 30 cm untuk satu tanaman cabai. Hingga tahap ini, saya belum menggunakan pupuk kimia.

Bibit usia tiga hari: batang dan daun tanaman razzamataz terlihat lebih gelap cenderung ungu dibandingkan dengan tanaman cabai lainnya 

Memasuki usia satu bulan, baik pupuk organik maupun kimia dapat mulai diberikan. Bila boleh jujur, saya sendiri kurang menyukai penggunaan NPK dan lebih memilih menggunakan pupuk guano sebagai pupuk lepas lambat setiap dua minggu sekali. Kompos dan pupuk kandang dapat ditambahkan setiap satu bulan sekali. Untuk pupuk kimia, saya mengaplikasikan pupuk daun setiap dua minggu sekali. Pemberian zat pengatur tumbuh juga dapat diberikan setiap dua minggu sekali untuk merangsang munculnya bunga dan buah. Tentu saja, semua pupuk harus diberikan secukupnya dan sesuai dosis yang dianjurkan karena jika tidak, tanaman cabai akan layu dan kemudian mati.

Kelopak bunga razzamatazz berwarna ungu

Saat usia dua bulan, tanaman cabai razzamatazz akan mulai berbunga, meski awalnya akan lebih sering rontok dengan sendirinya. Seperti kebanyakan cabai pelangi, razzamatazz juga memiliki bunga berwarna ungu muda. Unik, ya? Kalau cabai sudah siap berbuah, jangan lupa untuk pasang ajir yang kecil saja supaya membantu menopang tegaknya tanaman. Biasanya tanaman cabai akan berbuah pada usia tiga bulan. Buah cabai razzamatazz akan mengalami perubahan warna, yakni ungu tua-ungu muda-kuning-jingga-merah. Lantas bila cabai sudah berubah merah dan matang, apakah razzamatazz bisa dikonsumsi selayaknya cabai biasa? Tentu bisa dong, baik dalam kondisi mentah maupun dimasak. Menurut laman web salah satu produsen benih razzamatazz di Inggris, Mr. Fothergill's, cabai ini merupakan sumber vitamin C, antioksidan dan serat yang sangat baik. Dengan tingkat kepedasan menengah, kita dapat menambahkan razzamatazz ke dalam masakan untuk menambah cita rasa pedas dan warna pada salad, misalnya. Konsumsilah secara bijak, jangan berlebihan. Namun, saya pribadi kurang menyukai tekstur dan rasa dari razzamatazz ini. Sebagai seorang penikmat cabai, saya rasa razzamatazz lebih baik dijadikan sebagai cabai ornamental saja deh ketimbang untuk dikonsumsi bersama gorengan atau dibuat sambal. Haha.

Cabai-cabai bermunculan!

Razzamatazz mampu bertahan dalam kondisi  cuaca buruk. Cabai ini sangat menyenangi sinar matahari penuh dan tidak pernah berhenti berbuah sepanjang musim panas. Pemangkasan tidak begitu diperlukan karena cabai ini termasuk tipe pendek dan rimbun. Boleh saja dilakukan pangkas tunas agar tanaman cabai tumbuh dan berbuah lebih lebat. Sama seperti tanaman cabai lainnya, razzamatazz juga banyak membutuhkan air, tapi tidak boleh berlebihan. Terlebih lagi, media tanam cabai sangat mudah sekali kering pada musim panas sehingga dapat menyebabkan daun layu dan rontok. Oleh karena itu, penyiraman dapat dilakukan sebanyak dua kali sehari (pagi dan sore hari), kecuali saat hujan. Bila musim hujan datang (off season), produksi razzamatazz akan mengalami penurunan.

Beryukurlah kita hidup di negara beriklim tropis, menanam cabai pun menjadi lebih mudah dibanding negara empat musim sehingga tanaman cabai tidak perlu melewati fase dorman. Cabai pun dapat dipanen dan dinikmati kecantikannya sepanjang tahun. Razzamatazz dapat hidup menahun sehingga perakarannya pun berkembang dan menjadi semakin kuat. Kadang hingga tidak ada ruang tersisa lagi bagi media tanam dalam pot. Pada saat inilah, mengganti pot dengan ukuran yang lebih besar dan penambahan media tanam sangat dianjurkan.

Usia enam bulan

Yang paling menyebalkan dari menanam cabai tentu saja serangan hama! Kutu kebul dan tanaman cabai sepertinya adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan deh. Namun, menurut saya razzamatazz ini patut diacungi jempol loh, sebab cukup tahan dari serangan kutu kebul yang menyerang tanaman cabai lain di sekitarnya. Penggunaan insektisida pun jarang sekali, sedangkan fungisida dapat dikocor di sekitar perakaran setiap satu bulan sekali. Tidak banyak masalah yang ditemukan selama menanam razzamatazz, kecuali pasukan semut yang bersarang dan bertelur di dalam media tanam. Biasa deh, problematika tabulampot.

Cukup berwarna, ya!

Dalam pot, tanaman razzamatazz dapat bertahan hingga dua tahun lebih sebelum akhirnya terbengkalai dan produktivitasnya ikut menurun drastis. Razzamatazz adalah cabai pelangi yang saya rekomendasikan untuk ditanam oleh pemula karena perawatannya yang mudah dan tidak rewel. Tanaman cabai pelangi berbagai varietas umumnya dijual dengan kisaran harga 30.000 hingga 80.000 rupiah. Biasanya di pameran flona yang digelar tiap tahun, cabai hias dan unik banyak diminati dan dicari kaum ibu rumah tangga. Memang sangat cantik untuk ditaruh di pelataran rumah. Akan membuat setiap orang yang melihatnya berdecak kagum dan memuji keindahannya.

Sebenarnya, razzamatazz bukanlah cabai hias pertama yang saya tanam. Saya  lebih dulu mencoba menanam Bolivian rainbow, hanya saja hasilnya tidak sesuai seperti yang dibayangkan. Cabai yang muncul ternyata berbentuk bulat menyerupai cherry bomb pepper dan sama sekali tidak berwarna pelangi. Entahlah, bisa saja benihnya tertukar saat pengemasan atau mungkin yang dikirimkan memang benih F2 (ih, su'udzon saja). Meskipun begitu, cabai tersebut sangat cantik dan layak dipajang sebagai pemanis pekarangan rumah, serta dapat dikonsumsi dengan tingkat kepedasan yang cukup rendah. Namun berbeda dengan razzamatazz, cabai satu ini sangat disukai oleh hama terutama kutu kebul. Karena sulit ditanggulangi, maka bolivian rainbow hanya dapat bertahan selama satu tahun dan kemudian mati.

Katanya sih bolivian rainbow sayy

Oiya, postingan ini dibuat hanya sekadar untuk berbagi pengalaman menanam cabai razzamatazz, ya. Barangkali bermanfaat bagi yang membacanya. Senang  deh rasanya bisa berbagi, walaupun saya sendiri masih harus banyak belajar lagi. Baiklah, selamat berkebun semuanya!

Share:

Jan 27, 2017

Menanam Melon Korea dalam Pot


Melon korea (Cucumis melo L. var. makuwa) atau dikenal sebagai Chamoe (참외) adalah jenis melon yang biasa ditanam di Korea, Tiongkok dan Jepang. Di Barat, melon ini dikenal juga sebagai oriental melon atau sun jewel melon. Saya sendiri pertama kali berkesempatan mencicipi melon ini saat Korea Festival tahun 2013, maklum dulunya saya kan penggandrung K-pop sejati. Buahnya tidak besar seperti varietas melon yang lain; bentuknya lonjong dengan kulit tipis berwarna kuning serta garis putih membujur di sepanjang buah. Teksturnya renyah dengan rasa yang sangat manis dan unik, kira-kira seperti perpaduan buah pir dengan melon madu (honeydew). Di Indonesia, melon ini masih sulit ditemukan dan biasanya hanya dijual di supermarket asal Korea Selatan. Itu pun tidak tersedia sepanjang tahun loh, tergantung musimnya saja, karena melon ini memang merupakan buah khas musim panas di Korea. Tahun 2015 lalu, saya makin giat mencari biji melon korea di penjual bibit online lokal, namun sayangnya belum ada yang jual. Usai penantian panjang (gak juga deh), akhirnya perjuangan saya tidak sia-sia ☺ Karena saat itu sudah masuk musim penghujan, saya pun terpaksa menunda kegiatan semai benih. Bijinya ternyata lebih imut jika dibandingkan dengan biji suku timun-timunan yang lain.

Cara menanam melon korea sebenarnya sama saja seperti menanam melon pada umumnya. Hanya saja akibat keterbatasan lahan sekaligus ingin mencoba tabulampot (tanaman buah dalam pot) melon, maka saya memutuskan untuk menanam melon korea di pot gantung berdiameter 30 cm. Seharusnya, supaya tanaman melon dapat tumbuh dengan baik memang diperlukan pot yang berukuran besar, minimal berdiameter 40 cm. Karena kebetulan di rumah banyak kucing, pot pun terpaksa digantung untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Biji dapat disemai langsung ke dalam pot berisi media tanam yang terdiri dari campuran tanah, kompos, sekam bakar, dan sekam mentah. Boleh juga tambahkan pupuk kandang, tapi karena sedang kehabisan jadi saya tidak pakai. Oh iya, penyemaian boleh juga dilakukan dengan kapas, rockwool atau kain yang dibasahi. Biji tersebut akan berkecambah dalam kurun waktu 3-10 hari. Bila sudah berkecambah, media tanam jangan sampai terlalu kering atau basah karena bisa mengakibatkan rebah kecambah (damping off).

Bibit melon korea
Tanaman melon butuh sinar matahari penuh sepanjang hari, jadi usahakan tidak menaruh pot di tempat yang ternaungi. Untuk skala komersial, umumnya tanaman melon dipelihara dalam rumah plastik transparan atau diberi paranet. Seperti halnya suku timun-timunan lain, melon korea juga tumbuh menjalar sehingga membutuhkan lenjeran/rambatan. Saya buat yang sederhana saja dari batang bambu yang penting asal jadi gitu (jangan dicontoh ya), tapi ternyata repot harus ikat sana-sini supaya batang tanaman tidak menjalar kemana-mana. Sepertinya lain kali saya akan menggunakan penyangga tanaman saja deh, lebih praktis dan rapi. Penyiraman rutin cukup dilakukan pada pagi dan sore hari. Namun, cuaca Jakarta yang begitu panas belakangan ini menyebabkan media tanam cepat sekali kering dan tanaman menjadi layu, sehingga media tanam harus disiram lebih sering tapi tidak berlebih. Bila memungkinkan, kalian bisa coba buat self-watering container sendiri jadi tidak perlu repot menyiram tanaman setiap saat, terutama pada musim panas.

Pemangkasan (pruning) pada tanaman melon dapat dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas hasil buah. Sayangnya karena saya kurang mengerti teknik pemangkasan, maka saya lewati tahap ini dan membiarkan cabang-cabangnya tumbuh bebas begitu saja. Lain kali, pasti akan saya coba praktikkan deh. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, saya hanya menggunakan fungisida yang dikocor di pangkal batang dan sekitar perakaran setiap satu bulan sekali. Saya sangat menghindari penggunaan insektisida jika tidak benar-benar diperlukan, untungnya, tidak ada hama apa pun yang menyerang selama saya menanam melon ini.

Tanaman usia 25 hari
Bagi saya pribadi, tidak ada acuan khusus dalam pemupukan tanaman melon korea. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara tabur, kocor dan semprot. Pada fase vegetatif, saya berikan pupuk  daun dengan kandungan nitrogen tinggi sejak tanaman berusia 14 hari setiap minggu. Bila sudah memasuki fase generatif pada usia 30 hari, saya berikan pupuk daun dengan kandungan fosfor tinggi untuk merangsang pembentukan bunga. Selain pupuk daun, saya menggunakan pupuk guano setiap dua minggu sekali sampai panen nanti. Nah, bunga jantan akan muncul lebih awal dan bunga betina akan menyusul mulai usia 40 hari, namun karena di lingkungan rumah saya sangat sulit untuk dilakukan penyerbukan alami (oleh angin, serangga ataupun penyerbukan sendiri), maka penyerbukan pun dilakukan secara buatan melalui perantara tangan (hand pollination) dan biasanya saya lakukan sebelum jam 9 pagi. Pada saat inilah dibutuhkan unsur kalium yang bermanfaat untuk mencegah kerontokan bunga sehingga dapat menjadi buah. Jika tidak sempat terserbuki, bunga betina tidak akan berkembang menjadi calon buah lalu menguning dalam 3-7 hari (sebaiknya dibuang saja karena tidak rontok sendiri). Di samping itu, kondisi basah akibat guyuran hujan juga dapat menyebabkan penyerbukan gagal. Sementara bila proses penyerbukan berhasil, calon buah pada bunga betina akan membesar dan berubah menjadi buah sempurna.

Lima hari setelah penyerbukan
Dalam pot, satu tanaman bisa menghasilkan 2-3 buah. Semakin banyak melon yang dihasilkan, maka semakin kecil pula ukuran buahnya. Melon korea memiliki umur panen berkisar 70–80 hari setelah tanam (hst). Melon yang telah matang dan siap panen ditandai dengan warna kulit yang berubah menjadi kuning (bukan kuning pucat), garis putih membujur di kulit buah sudah terlihat jelas, dan mengeluarkan aroma yang manis dan harum. Biasanya setelah kulit berubah kuning, saya diamkan dulu selama dua hari di pohon untuk memastikan melon tersebut benar-benar matang. Setelah dipetik, melon korea dapat bertahan selama lima hari pada suhu ruang atau disimpan dalam kulkas.

Abaikan tangan raksasa saya ya, melon korea sudah matang (tapi sepertinya kurang nutrisi sih)
Melon korea menjadi buah favorit kami di rumah. Bukan hanya digemari karena rasanya yang manis dan segar, melainkan juga banyak manfaat yang terkandung di dalamnya. Selain menjadi sumber vitamin C dan kalsium yang baik, melon ini dapat menurunkan resiko penyakit kanker. Kulitnya yang tipis dan bijinya yang kecil serta tidak keras juga dapat turut dikonsumsi bersama daging buah. Kabarnya, bijinya juga mengandung banyak nutrisi. Dengan kata lain, semua bagian buah bersifat edible alias bisa dimakan. Melon ini dapat disantap langsung, dibuat jus atau smoothie, sebagai campuran salad atau es buah, dan di Korea buah ini diolah menjadi acar bernama chamoe jangajji (참외장아찌).

Berdasarkan hasil percobaan menanam melon korea tadi, sepertinya melon ini tidak masalah untuk ditanam di daerah mana saja, selama daerah tersebut dapat ditumbuhi mentimun/melon jenis lainnya. Tentu saja ketinggian tempat, iklim, suhu udara, dan cuaca merupakan segelintir faktor yang berpengaruh pada tanaman melon, terutama ukuran dan tingkat kemanisan buah. Saya sendiri pun tidak tahu bagaimana kondisi yang cocok untuk menanam melon korea seperti di negara asalnya, namun tidak ada salahnya mencoba kan? (apalagi hanya untuk sekedar iseng seperti saya hehe). Yang perlu diingat adalah menanam di pot tidak akan sama suburnya dengan menanam di tanah langsung. Memang dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra dalam merawatnya, namun pasti ada kepuasan tersendiri ketika menikmati buah dari hasil menanam sendiri, bukan? ☺ Menanam melon korea sebaiknya dilakukan pada musim panas (Mei-Agustus), sebab menanam pada musim hujan dikhawatirkan memicu busuk akar, batang dan daun akibat kondisi lembab di mana cendawan dan bakteri lebih gencar menyerang pada musim tersebut. Sementara itu, buah yang dihasilkan pun akan terasa kurang manis dan hambar (bland).

FYI, melon korea ini merupakan percobaan pertama saya menanam tabulampot melon loh, saya jadi pengin deh menanam tumbuhan lainnya dari suku Cucurbitaceae. Baiklah, cukup sekian menanam secara sederhana dan ala kadarnya bersama saya. Sampai jumpa pada percobaan menanam berikutnya, ya! Annyeong!
Share:

Nov 19, 2016

Yuk, Menanam Okra di Rumah!

Halo, apa kabar? Semoga semuanya selalu dalam keadaan sehat, ya. Percobaan berkebun dalam pot ala-ala kali ini adalah... (drumroll please) tanaman okra! Saya pertama kali mendengar kata "okra" saat menonton film fiksi ilmiah Interstellar tahun 2014. Singkatnya, pada awal film dijelaskan bahwa bumi yang semakin tidak layak huni sedang dilanda krisis pangan dan untuk bertahan hidup umat manusia harus bertani. Sementara itu, badai debu dan bencana hawar terus menghancurkan ladang pertanian. Okra dan jagung adalah dua tanaman pangan yang tersisa untuk umat manusia, sebelum akhirnya okra terkena serangan hawar dan menyisakan jagung menjadi satu-satunya tanaman pangan yang bisa bertahan. Namun, keadaan bumi semakin memburuk dan jagung pun ikut terancam. Salah satu harapan terakhir adalah dengan mencari planet lain yang bisa ditinggali manusia. Sungguh film yang begitu epik dan keren sekali!

Saya pun menjadi penasaran dan merasa sedikit ketinggalan zaman. Sejenis tanaman apakah okra hingga disebutkan dalam sebuah film besar Hollywood? Bagaimana rasanya? Bisa didapatkan di mana, ya? Baiklah, saya memutuskan berselancar di dunia maya untuk menggali informasi mengenai tanaman ini.


Okra atau bendi dengan nama ilmiah Abelmoschus esculentus adalah sejenis tumbuhan berbunga dari famili Malvaceae atau kapas-kapasan yang menghasilkan buah (polong) untuk dikonsumsi. Tumbuhan ini memiliki nama lain okro, gumbo dan lady's fingers karena bentuknya menyerupai telunjuk wanita dengan ujung runcing (tapi sepertinya lebih mirip jari penyihir ya, hehe). Asal tanaman ini sendiri masih diperdebatkan, sebagian mengatakan dari Asia Selatan dan sebagian lainnya mengatakan dari Afrika Barat. Namun, okra diyakini berasal dari suatu wilayah di Abissinia kuno atau yang kini dikenal dengan Ethiopia, lalu menyebar menuju Arab, Afrika Utara, timur Mediterania dan India. Bangsa Mesir dan Moor membudidayakan okra pada abad ke 12 dan ke-13, sementara okra tiba di Amerika Serikat sekitar abad 17. Kini, okra sudah ditanam di hampir seluruh belahan dunia yang beriklim tropis dan sub-tropis. Okra juga dikenal luas di negara-negara Asia Tenggara, tetapi kurang begitu dikenal di Indonesia. Terlepas dari tekstur buahnya yang berlendir saat dimasak, okra banyak digemari masyarakat dunia karena sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Tahun 2015 lalu, saya beberapa kali menemukan okra segar di pasar swalayan di Jakarta. Karena suatu dan lain hal, saya malah lupa untuk membelinya. Kebetulan pada awal 2016, saat sedang asyik mengecek Instagram, ada unggahan penjual benih yang muncul di linimasa saya. Wah, biji okra! Langsung saja, saya pesan dua varietas okra dan berbagai benih lainnya. Saya pun tidak sabar untuk menanamnya. Akibat intensitas hujan pada bulan Januari masih tinggi, saya menunda penyemaian hingga pertengahan Februari.

Lahan rumah yang sangat sempit tentunya tidak menjadi penghalang bagi pekebun pemula seperti saya, apalagi okra dapat ditanam dalam pot dan tidak mengambil banyak ruang. Menurut penjual, okra yang saya beli termasuk kultivar dwarf, sehingga sangat cocok untuk ditanam di pot. Sebelum proses penyemaian dimulai, biji direndam lebih dulu dalam air selama ± 12 jam. Lalu, siapkan media tanam yang akan digunakan, saya pribadi menggunakan media tanam siap pakai dan rockwool. Karena tidak punya wadah semai (seedling tray), saya menyemai benih di pot kecil yang tersedia di rumah saja, asalkan terhindar dari serangan kucing-kucing Mama. Satu benih masing-masing ditanam dalam satu pot. Pesemaian dapat diletakkan di tempat terbuka yang terkena sinar matahari cukup, sebab suhu tanah yang hangat akan membantu proses perkecambahan biji. Namun, pesemaian tersebut harus tetap terlindung dari terpaan air hujan dan angin kencang. Biji okra akan berkecambah dalam waktu sekitar 5-10 hari.

Sebelah kiri adalah bibit okra merah, sementara yang kanan adalah okra hijau

Bibit okra yang telah mencapai tinggi 15 cm atau telah memiliki empat daun sejati dapat dipindahkan ke pot atau polybag dengan diameter minimum 25 cm. Saat transplantasi bibit, pastikan tidak melukai atau merusak akar. Gunakan campuran tanah gembur, kompos, pupuk kandang dan sekam; pastikan media tanam ini memiliki aerasi dan drainase yang baik. Okra sangat cocok pada jenis tanah geluh dan berpasir, maka hindari tanah lempung atau lengket karena bersifat kurang porous. Tanaman ini tumbuh dengan baik pada temperatur antara 25-35°C dan membutuhkan sinar matahari penuh setidaknya enam jam setiap hari untuk dapat berbuah. Oleh sebab itu, letakkan pot di tempat terbuka yang tidak ternaungi. Siram sebanyak dua kali sehari, kecuali saat hujan. Okra sangat tahan terhadap cuaca panas dan kekeringan, tetapi tidak tahan genangan air.

Meskipun akan tumbuh baik-baik saja di kebun dengan tanah yang kaya nutrisi, tanaman okra yang ditanam dalam pot tetap memerlukan nutrisi tambahan dari pemupukan berkala. Mulai usia empat minggu, tanaman sudah dapat diberikan pupuk kandang dan kompos setiap satu bulan sekali. Pupuk rilis lambat seperti NPK, guano, dan pupuk lainnya dengan kandungan fosfor dan kalium tinggi dapat diberikan setiap dua minggu sekali sesuai dengan petunjuk penggunaan. Begitu pun dengan pupuk daun yang dapat disemprot setiap satu minggu sekali.

Tanaman okra juga tidak terlepas dari hama dalam famili kapas-kapasan, yakni penggerek buah dan pucuk (Earis vittella), penggerek buah (Helicoverpa armigera), ulat penggulung daun (Sylepta derogata), wereng kapas (Amrasca biguttula biguttula), dan hama yang biasa dijumpai pada tanaman lainnya, seperti kutu kebul (Bemisia tabici), kutu daun (Aphis gossypii), kutu putih (Phenacoccus solenopsis), tungau laba-laba merah (Tetranychus urticae), serta nematoda puru akar (Meloidogyne incognita). Selain itu, penyakit yang disebabkan oleh cendawan antara lain rebah kecambah, layu fusarium, embun tepung, dan bercak daun. Dua tanaman okra yang saya tanam masing-masing terkena serangan nematoda yang mengakibatkan pertumbuhannya tidak normal dan bercak daun menyebabkan daun cepat menguning dan gugur. Karena serangan cukup parah dan sama sekali tidak menggunakan pestisida, maka keduanya terpaksa dicabut dan dibuang.


Untuk kultivar dwarf, tinggi okra hanya berkisar 1-1,2 meter sehingga tidak perlu dilakukan pemangkasan tanaman. Okra akan mulai berbunga memasuki usia dua bulan, walaupun pada awalnya bunga akan mengalami kerontokan. Bunganya sangat cantik, berbentuk terompet dan berwarna putih kekuningan dengan warna merah keunguan di tengahnya. Sekilas mirip dengan kembang sepatu, wajar saja sih karena mereka memang masih satu famili. Bunga hanya mekar pada pagi hari dan akan menutup lalu rontok setelah terjadi penyerbukan pada hari yang sama. Jangan khawatir, okra termasuk tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri jadi kita tidak perlu repot membantu proses penyerbukan. Kemudian, bakal buah berwarna hijau akan muncul  dari balik bunga yang kering. Pada hari kedua, bakal buah okra merah akan mulai berubah warna menjadi kemerahan. Buah muda dapat dipanen pada 4-6 hari setelah berbunga dengan panjang polong ideal sekitar 7-11 cm. Jangan sampai terlambat untuk memetik karena polong akan menjadi berserabut, hambar, dan terlalu keras untuk dikonsumsi. Okra harus dipanen secara berkala setiap dua hari sekali agar tanaman selalu produktif. Gunakan pisau atau gunting tajam untuk memanen. Beberapa orang mungkin akan membutuhkan sarung tangan saat memetik karena daun dan polong okra memiliki bulu-bulu halus yang dapat mengiritasi kulit.


Okra segar cenderung mudah rusak apabila disimpan terlalu lama. Polong tidak dapat bertahan lebih dari tiga hari di dalam lemari pendingin, sehingga begitu dipanen harus segera dikonsumsi. Okra telah lama populer sebagai makanan sehat karena memiliki kandungan serat, vitamin A, B, C, K dan asam folat yang tinggi. Serat yang tinggi membantu menstabilkan gula darah dalam tubuh dan menurunkan resiko kerusakan ginjal, sehingga baik untuk dikonsumsi pejuang diabetes. Okra dapat pula digunakan untuk mengobati masalah pencernaan. Polisakarida yang terdapat dalam polong okra muda sangat baik untuk lambung dan mampu menurunkan kadar kolesterol, begitu pun dengan serat yang ditawarkan okra membantu membersihkan sistem usus besar agar dapat berfungsi secara efektif. Mineral penting, seperti zat besi, kalsium, kalium, mangan, dan magnesium juga ditemukan dalam okra. Selain untuk kesehatan, okra juga bermanfaat untuk kecantikan karena mengandung antioksidan tinggi. Sebenarnya masih banyak sekali kebaikan okra bagi tubuh, namun rasanya tidak cukup untuk ditulis semua dalam postingan ini. 

Lalu, apa sih perbedaan okra merah dengan hijau? Selain dari warna, tidak ada perbedaan yang mencolok. Keduanya memiliki rasa dan khasiat yang sama. Bahkan saat dimasak, polong okra merah akan berubah menjadi hijau. Namun, okra merah mentah dapat ditambahkan untuk menambah warna pada hidangan. Polong okra muda dapat dimakan mentah dan dijadikan berbagai olahan masakan, misalnya direbus, dipanggang, ditumis, digoreng, dibuat sup, acar dan salad, serta cocok untuk dicampur bersama sayuran lainnya. Lendir berupa polisakarida yang terkandung dalam okra dapat berfungsi sebagai bahan pengental masakan dan pengganti putih telur. Okra juga dapat disajikan sebagai minuman, seperti jus, smoothie, dan infused water. Favorit saya tentu saja dimakan langsung dan infused water. Wah, rasa okra yang baru dipetik ternyata sangat segar, renyah dan sedikit manis! Dibuat goreng tepung pun enak. Memasak okra tidak boleh terlalu lama karena akan menyebabkan okra semakin lembek dan berlendir. Selain itu, hindari memasak okra di peralatan yang terbuat dari tembaga, besi dan kuningan. Reaksi yang terjadi antara okra dan logam tersebut akan mengakibatkan warna polong memudar dan menggelap.

Untuk memanen benih okra, tunggu sampai musim tanam berakhir. Kultivar dwarf mampu bertahan antara 6-8 bulan. Biarkan polong hingga menua dan mengering di pohon, biasanya polong ditandai dengan warna coklat, keras dan telah retak. Biji pun telah berwarna gelap kehitaman. Petik dan keringkan polong pada udara terbuka di bawah sinar matahari selama beberapa hari. Setelah itu, bersihkan dan pisahkan benih dari kulit dan kotoran lainnya. Benih dapat dikemas dalam wadah atau stoples kedap udara yang telah diberi gel silika. Simpan di tempat yang kering dan sejuk atau dalam lemari pendingin. Benih okra dapat bertahan hingga tiga tahun, meskipun semakin lama tingkat germinasi akan semakin menurun.


Omong-omong, saat lebaran kemarin, ternyata banyak kerabat yang tertarik setelah mendengar segudang manfaat okra dan ingin mencoba menanam di rumah mereka. Syukurlah, saya sudah menyetok benih okra hijau dan merah dari hasil panen sendiri hehehe. Satu bulan setelah itu, saya dikabari bahwa tanaman okra mereka sudah tumbuh. Bahkan dua minggu lalu, saya diberikan satu pot penuh berisi bibit okra hasil panen perdana mereka sebagai balasan terima kasih, katanya. Terharu sekali deh, okra yang saya tanam sudah beranak cucu dan bisa bermanfaat untuk orang-orang. Padahal saya pun menanam okra hanya untuk iseng-iseng saja. Yup, menanam okra memang semudah itu. Meskipun harga okra di pasaran cukup terjangkau (biasanya 10.000 rupiah/pak), tetap saja okra hasil panen sendiri rasanya jauh lebih enak dan segar ketimbang membeli di pasar. Kadang-kadang okra yang dijual sudah layu, alot dan sangat hambar. Apalagi, di rumah bisa langsung petik sendiri. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, menanam okra di rumah!
Okra Diseases (pdf)
Share:

Apr 22, 2016

Red, Ripe Bolivian Rainbow Peppers

Cutie!

Share:

Jan 26, 2016

Mengenal Chaya: Si Pepaya Jepang yang Sebenarnya Bukan Pepaya


Update – November 2017

Setelah dua tahun tidak lagi menanamnya, barulah saya tahu kebenaran tentang tanaman ini. Agak lucu juga, ternyata selama ini saya ikut salah sebut.
Mei lalu, seorang teman pena membaca tulisan ini dan memberikan info sekaligus mengoreksi saya. Akhirnya, misteri nama asli tanaman ini terjawab. Alhamdulillah, ya.

Kilas Balik 2015: Perkenalan Pertama

Akhir 2015, saya dibawakan sepuluh batang tanaman yang dikenal sebagai daun pepaya jepang. Daunnya mirip pepaya biasa (Carica papaya), tapi ukurannya lebih kecil. 

Soal rasa? Sama sekali tidak pahit. 
Cocok sekali untuk campuran tumis ikan teri, direbus sebagai lalapan, atau dibuat sayur urap. Mirip daun singkong, tapi versi juara. Teksturnya lebih renyah, empuk, dan tidak alot. 

Ibu saya, entah kenapa, nekat menyeteknya. Batang dipotong sepanjang 30 cm, lalu ditancapkan ke pot. Jujur saja, awalnya saya skeptis. Dalam kepala saya waktu itu: mana mungkin pepaya tumbuh dari stek batang? Tapi seminggu kemudian, tunas baru mulai muncul. Tiga minggu? Daunnya sudah rimbun, hijau muda, dan terlihat segar.

Pengalaman Pribadi Menanam Chaya di Pot

Meskipun batang terlihat langsing, chaya kokoh dan daunnya cukup rimbun. Karena ditanam di pot dan sering dipangkas, tinggi tanaman tetap terkontrol. Rasanya menyenangkan deh bisa memanen sendiri, seperti dapat hadiah kecil dari tanaman yang kita rawat diam-diam.

Menurut pengalaman saya, chaya tidak butuh perawatan khusus:
  • Ketahanan: Tahan cuaca panas maupun hujan. Saya jarang menjumpai hama. Tapi kalau hujan terus-menerus, satu pot saya pernah busuk. Pelajaran penting: jangan terlalu banyak air di awal penanaman.
  • Penyiraman: Cukup dua kali sehari saat cuaca terik.
  • Pemupukan: Pupuk kandang atau pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) seperti NPK sebulan sekali, dosis menyesuaikan ukuran pot.
  • Masa Panen: 1,5 bulan setelah stek, daun sudah bisa dipetik. Selanjutnya bisa dipanen setiap bulan.
Hati-hati Getah: Saat panen, jangan sampai terkena getahnya karena bisa memicu rasa perih dan gatal, terutama pada kulit sensitif. Cukup cuci dengan sabun, dan rasa gatalnya akan berangsur hilang.

Stek pepaya jepang di pot. Satu pot sempat mati karena busuk akibat hujan yang datang terus-menerus

Meluruskan Salah Kaprah soal “Pepaya Jepang”

Waktu itu, info tentang tanaman ini masih sangat langka. Jadi wajar kalau saya, dan mungkin banyak orang lain, ikut salah kaprah. Nama asli tanaman ini adalah chaya, atau bayam pohon (Tree Spinach). Nama ilmiahnya cukup bikin dahi berkerut: Cnidoscolus aconitifolius.

Chaya, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai pepaya jepang, nyatanya bukan pepaya dan jelas bukan dari Jepang. Nama itu kemungkinan hanya trik pasar supaya terdengar eksotis. Mirip kasus pepaya bangkok atau california yang sebenarnya hasil pemuliaan dosen IPB, tapi sering dilabeli impor. Kita memang sering terjebak label, bukan?

Chaya berasal dari Semenanjung Yucatán, Meksiko, dan sudah menjadi makanan favorit bangsa Maya selama berabad-abad. Tanaman ini adalah semak menahun yang tumbuh cepat dan besar.

Menariknya, Chaya punya beberapa subspesies.
  • Chaya Brava: tumbuh liar, duri halus
  • Chaya Mansa: dibudidayakan tanpa duri
Grup kultivar Chayamansa dibagi lagi menjadi empat jenis berdasarkan bentuk daun: Chayamansa, Estrella, Picuda, dan Redonda. Sepertinya yang saya tanam adalah kultivar ‘Picuda’, makanya bentuk daun yang kita temui kadang berbeda.

Chaya berkerabat dekat dengan singkong (Manihot) dan jarak pagar (Jatropha), semuanya dalam keluarga Euphorbiaceae. Jadi wajar kalau batangnya mengeluarkan getah putih yang agak menyengat. Kalau memanen atau memangkas, sarung tangan wajib dipakai ya!

Chaya di pot yang lebih besar.

Nutrisi dan Keamanan

Daun chaya sering disebut superfood. Kandungan zat besinya lebih tinggi dibanding bayam, serta kaya kalium, kalsium, dan vitamin A. Banyak yang percaya chaya membantu melancarkan sirkulasi darah, menjaga kolesterol, dan punya segudang manfaat lainnya.

Namun, seperti singkong, daun chaya mengandung glikosida sianogenik yang bersifat racun.

Cara Mengolah Chaya yang Benar

  • Rebus minimal 5–20 menit agar racun menguap.
  • Jangan gunakan panci aluminium karena bisa memicu reaksi beracun dan menyebabkan diare.
  • Rebus tanpa menutup panci agar gas HCN bisa keluar, dan hindari menghirup uapnya.
Air rebusannya sering disebut menyehatkan karena kaya vitamin C. Jika masih ragu soal sisa toksin, tidak ada salahnya memilih untuk tidak mengonsumsinya.

Inspirasi Menu Chaya

Selain menu Indonesia, daun chaya bisa diolah menjadi banyak hidangan: sup, sayur, nasi goreng, pasta spageti, salad, lasagna, hingga pizza. Chaya juga bisa dijadikan minuman seperti teh, jus, atau smoothie. Karena masih ada silang pendapat soal aman atau tidaknya dikonsumsi mentah, jadi memang sebaiknya daun direbus dulu.

Bunga chaya

Panduan Lengkap Propagasi (Cara Menanam)

Chaya tidak menghasilkan biji atau buah. Ia biasanya hanya berbunga putih yang berubah menjadi polong (seed pod), lalu rontok dengan sendirinya. Pembiakan hanya bisa dilakukan melalui stek batang:
  • Media Tanam: Stek batang sepanjang 15–60 cm di pot atau tanah. Buang semua daunnya, siram teratur.
  • Drainase: Jangan terlalu basah, batang stek sangat rentan busuk.
  • Lingkungan: Suka sinar matahari penuh, tumbuh optimal di temperatur 25°C ke atas, ketinggian 0–1000 mdpl.
  • Kondisi Tanah: Bisa tumbuh di segala jenis tanah. Pupuk opsional, tapi daun akan lebih lebat jika diberi pupuk.
  • Jarak Tanam: 1–2 meter jika di lahan terbuka; jika ingin sebagai pagar hidup, cukup 1 meter antar tanaman.
Chaya bisa tumbuh sampai 6 meter, tapi mesti rajin dipangkas di bawah 2 meter agar tetap setinggi manusia dan mudah dipanen.

Sekarang daun chaya mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga terjangkau. Bibitnya pun banyak dijual online. Coba tanam di rumah, selain untuk sayuran, juga cantik sebagai pagar hidup.

Itulah sedikit cerita dan pengalaman saya menanam chaya, tanaman yang selama ini kita kenal sebagai “pepaya jepang”, padahal bukan pepaya, dan jelas bukan dari Jepang, ya!

Buat saya pribadi, chaya bukan cuma soal nama atau kandungan gizinya, tapi soal pengalaman kecil di rumah: menyetek batang, menunggu daun pertama muncul, lalu memanennya untuk dimasak bersama keluarga.

Kalau kamu pernah menanam atau mengolah chaya dengan cara yang berbeda, silakan berbagi di kolom komentar. Siapa tahu, dari cerita-cerita kecil seperti ini, kita bisa mengenal tanaman di sekitar kita dengan cara yang lebih dekat ☺
Share:

Featured Post

On Being the Punchline

Image: Studio4art on Freepik I never really understood bullying until it happened to me. If my posts here often feel heavy or bleak, thisis...