Update – November 2017
Setelah dua tahun tidak lagi menanamnya, barulah saya tahu kebenaran tentang tanaman ini. Agak lucu juga, ternyata selama ini saya ikut salah sebut.
Mei lalu, seorang teman pena membaca tulisan ini dan memberikan info sekaligus mengoreksi saya. Akhirnya, misteri nama asli tanaman ini terjawab. Alhamdulillah, ya.
Kilas Balik 2015: Perkenalan Pertama
Akhir 2015, saya dibawakan sepuluh batang tanaman yang dikenal sebagai daun pepaya jepang. Daunnya mirip pepaya biasa (Carica papaya), tapi ukurannya lebih kecil.
Soal rasa? Sama sekali tidak pahit.
Cocok sekali untuk campuran tumis ikan teri, direbus sebagai lalapan, atau dibuat sayur urap. Mirip daun singkong, tapi versi juara. Teksturnya lebih renyah, empuk, dan tidak alot.
Ibu saya, entah kenapa, nekat menyeteknya. Batang dipotong sepanjang 30 cm, lalu ditancapkan ke pot. Jujur saja, awalnya saya skeptis. Dalam kepala saya waktu itu: mana mungkin pepaya tumbuh dari stek batang? Tapi seminggu kemudian, tunas baru mulai muncul. Tiga minggu? Daunnya sudah rimbun, hijau muda, dan terlihat segar.
Pengalaman Pribadi Menanam Chaya di Pot
Meskipun batang terlihat langsing, chaya kokoh dan daunnya cukup rimbun. Karena ditanam di pot dan sering dipangkas, tinggi tanaman tetap terkontrol. Rasanya menyenangkan deh bisa memanen sendiri, seperti dapat hadiah kecil dari tanaman yang kita rawat diam-diam.
Menurut pengalaman saya, chaya tidak butuh perawatan khusus:
- Ketahanan: Tahan cuaca panas maupun hujan. Saya jarang menjumpai hama. Tapi kalau hujan terus-menerus, satu pot saya pernah busuk. Pelajaran penting: jangan terlalu banyak air di awal penanaman.
- Penyiraman: Cukup dua kali sehari saat cuaca terik.
- Pemupukan: Pupuk kandang atau pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) seperti NPK sebulan sekali, dosis menyesuaikan ukuran pot.
- Masa Panen: 1,5 bulan setelah stek, daun sudah bisa dipetik. Selanjutnya bisa dipanen setiap bulan.
![]() |
| Stek pepaya jepang di pot. Satu pot sempat mati karena busuk akibat hujan yang datang terus-menerus |
Waktu itu, info tentang tanaman ini masih sangat langka. Jadi wajar kalau saya, dan mungkin banyak orang lain, ikut salah kaprah. Nama asli tanaman ini adalah chaya, atau bayam pohon (Tree Spinach). Nama ilmiahnya cukup bikin dahi berkerut: Cnidoscolus aconitifolius.
Chaya, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai pepaya jepang, nyatanya bukan pepaya dan jelas bukan dari Jepang. Nama itu kemungkinan hanya trik pasar supaya terdengar eksotis. Mirip kasus pepaya bangkok atau california yang sebenarnya hasil pemuliaan dosen IPB, tapi sering dilabeli impor. Kita memang sering terjebak label, bukan?
Chaya berasal dari Semenanjung YucatΓ‘n, Meksiko, dan sudah menjadi makanan favorit bangsa Maya selama berabad-abad. Tanaman ini adalah semak menahun yang tumbuh cepat dan besar.
Menariknya, Chaya punya beberapa subspesies.
- Chaya Brava: tumbuh liar, duri halus
- Chaya Mansa: dibudidayakan tanpa duri
Grup kultivar Chayamansa dibagi lagi menjadi empat jenis berdasarkan bentuk daun: Chayamansa, Estrella, Picuda, dan Redonda. Sepertinya yang saya tanam adalah kultivar ‘Picuda’, makanya bentuk daun yang kita temui kadang berbeda.
Chaya berkerabat dekat dengan singkong (Manihot) dan jarak pagar (Jatropha), semuanya dalam keluarga Euphorbiaceae. Jadi wajar kalau batangnya mengeluarkan getah putih yang agak menyengat. Kalau memanen atau memangkas, sarung tangan wajib dipakai ya!
Nutrisi dan Keamanan
Daun chaya sering disebut superfood. Kandungan zat besinya lebih tinggi dibanding bayam, serta kaya kalium, kalsium, dan vitamin A. Banyak yang percaya chaya membantu melancarkan sirkulasi darah, menjaga kolesterol, dan punya segudang manfaat lainnya.
Namun, seperti singkong, daun chaya mengandung glikosida sianogenik yang bersifat racun.
Cara Mengolah Chaya yang Benar
- Rebus minimal 5–20 menit agar racun menguap.
- Jangan gunakan panci aluminium karena bisa memicu reaksi beracun dan menyebabkan diare.
- Rebus tanpa menutup panci agar gas HCN bisa keluar, dan hindari menghirup uapnya.
Inspirasi Menu Chaya
Selain menu Indonesia, daun chaya bisa diolah menjadi banyak hidangan: sup, sayur, nasi goreng, pasta spageti, salad, lasagna, hingga pizza. Chaya juga bisa dijadikan minuman seperti teh, jus, atau smoothie. Karena masih ada silang pendapat soal aman atau tidaknya dikonsumsi mentah, jadi memang sebaiknya daun direbus dulu.
Panduan Lengkap Propagasi (Cara Menanam)
Chaya tidak menghasilkan biji atau buah. Ia biasanya hanya berbunga putih yang berubah menjadi polong (seed pod), lalu rontok dengan sendirinya. Pembiakan hanya bisa dilakukan melalui stek batang:
- Media Tanam: Stek batang sepanjang 15–60 cm di pot atau tanah. Buang semua daunnya, siram teratur.
- Drainase: Jangan terlalu basah, batang stek sangat rentan busuk.
- Lingkungan: Suka sinar matahari penuh, tumbuh optimal di temperatur 25°C ke atas, ketinggian 0–1000 mdpl.
- Kondisi Tanah: Bisa tumbuh di segala jenis tanah. Pupuk opsional, tapi daun akan lebih lebat jika diberi pupuk.
- Jarak Tanam: 1–2 meter jika di lahan terbuka; jika ingin sebagai pagar hidup, cukup 1 meter antar tanaman.
Chaya bisa tumbuh sampai 6 meter, tapi mesti rajin dipangkas di bawah 2 meter agar tetap setinggi manusia dan mudah dipanen.
Sekarang daun chaya mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga terjangkau. Bibitnya pun banyak dijual online. Coba tanam di rumah, selain untuk sayuran, juga cantik sebagai pagar hidup.
Itulah sedikit cerita dan pengalaman saya menanam chaya, tanaman yang selama ini kita kenal sebagai “pepaya jepang”, padahal bukan pepaya, dan jelas bukan dari Jepang, ya!
Buat saya pribadi, chaya bukan cuma soal nama atau kandungan gizinya, tapi soal pengalaman kecil di rumah: menyetek batang, menunggu daun pertama muncul, lalu memanennya untuk dimasak bersama keluarga.
Kalau kamu pernah menanam atau mengolah chaya dengan cara yang berbeda, silakan berbagi di kolom komentar. Siapa tahu, dari cerita-cerita kecil seperti ini, kita bisa mengenal tanaman di sekitar kita dengan cara yang lebih dekat ☺





Hallo mbak, disepanjang depan rumah sy juga Banyak pepaya jepang. Pengen nyoba tumis yg katanya enak, tp pas sy petik pucuk"nya, itu getahnya pedih banget di kulit. Akhirnya blm nyampe 10 pucuk, ud sy lempar Saking pedihnya dikulit. Emang begitukah getahnya? Gak bole kena kulit? Sy coba search di Google kok gak nemu soal getah pepaya jepang ini. Apa sy yg trlalu sensitif, atau sy salah tanaman? Hehehe... Tp itu emg pepaya jepang sih kata tetangga n dari bentuknya jg persis yg difoto mbak. Thanks ya klo mbak mau share. Salam kenal
ReplyDeleteHallo mbak, disepanjang depan rumah sy juga Banyak pepaya jepang. Pengen nyoba tumis yg katanya enak, tp pas sy petik pucuk"nya, itu getahnya pedih banget di kulit. Akhirnya blm nyampe 10 pucuk, ud sy lempar Saking pedihnya dikulit. Emang begitukah getahnya? Gak bole kena kulit? Sy coba search di Google kok gak nemu soal getah pepaya jepang ini. Apa sy yg trlalu sensitif, atau sy salah tanaman? Hehehe... Tp itu emg pepaya jepang sih kata tetangga n dari bentuknya jg persis yg difoto mbak. Thanks ya klo mbak mau share. Salam kenal
ReplyDeleteMetiknya pake sarung tangan plastik, biar gak kena getahnya. Katanya juga beracun kalo dikonsumsi mentah. hati2.
ReplyDeletekira-kira asal usul pohon pepaya jepang ini dari mana yah mba?
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKyk ganja
ReplyDeleteIya nih saya hbis metik 2hari lalu sampai sekarang bentol2tangan kena getah masih gatal jadi lecet semua karna saya garuk
ReplyDeleteBegitu kena getah dicuci dengan sabun, dan jangan sekalipun digaruk. Bila terlanjur lecet, saya biasanya oleskan salep kulit. Insya Allah membaik, mba.
Deletetapi sepertinya bukan getahnya mba, soalnya saya juga saat mau menyetuh seperti kesengatπ dan ada bekas seperti tusukan gitu bkin tangan saya bentol trs bengkak seperti tersengat tawon.
DeleteHalo, Unknown. Selain getah, beberapa varietas chaya memang memiliki bulu-bulu/duri halus yang menyengat dan menyebabkan iritasi. Sehingga disarankan untuk memakai sarung tangan sebelum memetik chaya. Semoga membantu.
DeleteSaya ketusuk duri tanaman pepaya Jepang ini seminggu yg lalu, sampai sekarang gatalnya minta ampun sampai bentol2 gede dan merah semua kulit tangan saya. Bahkan telapak tangan saya sampai lecet dan bengkak. Itu solusinya bagaimana ya ��
DeleteIya nih saya hbis metik 2hari lalu sampai sekarang bentol2tangan kena getah masih gatal jadi lecet semua karna saya garuk
ReplyDeleteCongrats, tulisannya bagus, gaya bahasanya jg menarik.. keep writing yaa.. *Salam, Duan.
ReplyDelete... Malah sy perbanyak di halaman. Saya makan mentah untuk lalapan. Hehehe...
ReplyDeletebagus banget mba tulisannya. suami sy suka banget oseng2 daun chaya ini. dlu kami menyebutnya pepaya sayur. pas dioseng tp direbus dlu daunnya,airnya dibuang,baru dioseng. mantap bngett. malah tetangga sebelah bnyk yg pengen nanem juga
ReplyDeleteIyaa mba, oseng chaya dengan teri juga favorit saya, buatnya pun mudah bgt π terima kasih sudah mampir ya mba
DeleteSaya nanam banyak sekali pohon ini, kemarin baru panen lumayan. Saya buat oseng untuk konsumsi temen2 dalam sebuah Even, mereka suka banget, katanya enak dan gak pahit. Saya senang bisa membuat banyak orang suka dengan hasil kebun sendiri. Tapi dibalik itu ada yg tidak saya suka, sudah dua hari ini sejak panen daun tersebut tangan kanan saya terasa gatal2. Gimana solusinya ya?
ReplyDeleteHalo Unknown, sepertinya tangan kamu gatal2 karena alergi getah dari batang chaya. Mungkin boleh coba untuk dioles minyak zaitun/minyak kelapa/gel lidah buaya, dan biasanya saya pakai krim/salep alergi yang sebelumnya pernah dianjurkan dokter. Tp kalau gatalnya masih berlanjut, segera ke dokter ya.. Oiya, jangan lupa lain kali gunakan sarung tangan untuk menghindari getah dari pohon chaya.
Deletehai kak! saya mahasiswa yang minat untuk melakukan penelitian tentang daun chaya ituu... pohon chaya yang kakak tanam itu dalam jumlah banyak tidak kak ? kira2 saya bisa beli daunnya untuk penelitian saya ini gak kak? kalo boleh, saya minta alamatnya, untuk survey tanaman dulu.
ReplyDeleteBerarti emang bener ya.. Rata² yg dah pernah metik daun chaya ni tangannya pada bentol² gatel pula.. Sama aq jg.. π emang perrrih banget kayak kena silet klo pas kena getahnya, hbs gt bentol trs guatel bgt rasanya.. Kok bs gt ya??? Ada yg bs jelaskan penjelasannya.. π€
ReplyDeleteYup, gatel dan perih bgt sampe harus pake salep berhari2. Semoga ada yg berkenan menjawab pertanyaan ini dan berbagi ilmunya untuk kita semua π
DeleteMau tanya dnk klo bunga pepaya yg utk konsumsi jenis apa ya. Yang chaya ini bukan
ReplyDeleteHalo Anonim, bunga pepaya yg biasa dikonsumsi adalah bunga dari pohon pepaya gantung (pohon pepaya jantan yg bunganya tumbuh pada tangkai panjang). Bisa di-googling sendiri bagaimana penampakan "pepaya gantung", ya. Jadi, bukan dari bunga chaya. Semoga membantu.
DeleteYa Allah
ReplyDeleteKemarin saya terbangin tu pohonnya karena sudah tinggi 3m,setelah itu jati dan lengan saya kena getah dan pucuk daun nya, gatel2 tangan ini g tahan sampe lecet udh coba pke salep gatel g hilang pke minyak zaitun blm juga hilang.
Kasus ini saya alami berkali-kali sampai2 saya g mau konsumsi daun nya lagi, karena kesal jengkelπ‘π
This comment has been removed by the author.
DeleteMaaf typo
DeleteSaking kesalnya sampai typo, ya π Kalau mau ditebang harus dari pangkal batang kayaknya, supaya nanti ga terubus lagi. Jangan kapok dong makan chaya kan manfaatnya banyak untuk kesehatan π
Deletesaya metik 2 minggu yg lalu didpn rumah, gatalnya dijari saya sdh 2minggu sampe biru2 bengkak, saya pikir kena ullat bulu dari pohonya,..terimakasih infonya next time,..pake sarung tangan metiknya
ReplyDeleteHai, terima kasih atas kunjungannya. Benar, lain kali harus pakai sarung tangan, ya..
Deletebuahnya yng kecil2 bisa ga sih di makan?
ReplyDeleteHi Unknown, dari sumber yg pernah kubaca, polong chaya ini tidak dapat dikonsumsi.
DeleteMemang cepat tumbuh tanaman ini,
ReplyDeleteDi tumis enak tapi kalau ada penderita maag awas bisa memicu asam lambung naik
Halo, anonim. Menurut saya, hal ini belum dapat dibuktikan kebenarannya. Konsumsilah chaya secukupnya saja dan tidak berlebihan. Selama olahan chaya tidak dibuat terlalu pedas dan tidak dimasak bersama bahan lain yang memicu naiknya asam lambung, rasanya akan aman saja dikonsumsi pejuang gerd.
Delete