Dec 14, 2018

Fangirl Friday: The King of the Seven Seas


Eighty years of being the punchline. The guy who talks to fish. Then James Wan and Jason Momoa showed up and turned the tide.

I’ve waited years for this. Opening day. I remember the lights dimming and that first heavy bass note hitting my chest. My palms were actually sweating. Call me biased, I don’t care. It’s Fangirl Friday.

Two Worlds, One Blood

Arthur Curry is a child of the lighthouse and the deep. A half-breed who fits nowhere. He has the strength of a god but the heart of a drifter. He didn't want a crown, but his half-brother, Orm, gave him no choice.

Atlantis, imagined as a living myth.
Orm is tired of our trash. Tired of the surface world choking the sea. Honestly? It's hard to hate a villain who has a point.

The Magic of the Deep

Atlantis is a neon fever dream. It’s vibrant and terrifying. Wan lets his horror roots show with the Trench, but he keeps the soul of the story focused on a son looking for a mother who never came home.

And then there’s Momoa. When he finally walked out of that waterfall in the gold and green suit, I think I actually stopped breathing for a second. The tattoos, the raw, heavy presence. He didn't just play Aquaman; he reclaimed him. No one is laughing now.


The Sound of Salt

The music hits where it hurts. When Sigur Rós started playing against the sound of crashing waves, I felt a lump in my throat that wouldn't go away. Then Skylar Grey’s voice in the credits.. it’s a love letter from the ocean floor.

This song still feels like a love letter from Mera to Arthur.

It’s a fun ride, but it leaves you with a sting. If the ocean could talk back to us, it wouldn't be a conversation. It would be a scream. We need to do better.

Aquaman is the breath of sea air DC desperately needed.

The King is home, and honestly? The land can keep its dust.

Hail the King. Long may he reign!


Share:

Nov 15, 2018

Beauty Thursday: The Saem 99% Jeju Fresh Aloe Soothing Gel

It is the dry season here, and the weather has been unbearably hot for the past couple of months. The sunlight is so intense that even high-SPF sunscreen offers little protection. As a result, I often end up with severe sunburns just from walking outdoors or during longer rides. My skin becomes red, sore, and eventually begins to crack and peel—an extremely uncomfortable experience.

Unable to tolerate the persistent itchiness any longer, about four months ago I decided to give aloe gel another chance. My last experience with another brand was a total disaster, but that was years back, and I wondered if there might be better options available now. After looking through various products on the market, I landed on The Saem 99% Jeju Fresh Aloe Soothing Gel, and hoped it would treat me better this time.


This product is essentially an all-purpose gel that can be used on the face, hair, and body in various ways. Once it touches the skin, it delivers an instant cooling sensation and absorbs quickly into the skin without leaving any sticky residue. The fragrance is refreshing, pleasant, and never overwhelming.

For me, it has been nothing short of a lifesaver—it does exactly what it promises. It soothes the pain of sunburn better than anything else I have tried, calming both redness and itchiness.

Unlike the aloe gel I previously used, this one does not sting or leave my skin feeling dry. I often apply a thin layer as a light moisturizer before sunscreen and makeup, or a thicker layer overnight as a sleeping mask. Beyond after-sun care, it also helps with other types of burns. I have used it to calm chemical burns from skincare products containing acids, and it worked remarkably well. I also find it effective after waxing or shaving, as it helps to reduce razor burn and irritation. Packed with natural extract ingredients and free from harmful chemicals, this aloe gel provides safe and reliable care for the skin.


While it’s excellent for calming and relaxing the skin, it doesn’t do much in terms of acne care—it’s simply not made for that. It also works better as a complement to your routine rather than as your only moisturizer. Still, for daily use, it’s a wonderful product. I haven’t experienced any breakouts or dryness while using it. I’m already on my second jar and plan to keep repurchasing. It also comes in a tube version, which is more hygienic and convenient for travel. Overall, I truly believe this is a must-have item and would recommend it for all skin types.

Note: Always ensure that you’re purchasing authentic Korean beauty products from official stores or authorized distributors. Be cautious when buying from unauthorized sellers online—if the price seems too good to be true (and it’s not on sale), it may be a counterfeit product.


Share:

Nov 2, 2018

Friday, November 2, 2018


I have been questioning my life for such a very long time.. The question I have is not if life is worth living, because it is, but am I worth living?
Share:

Jul 2, 2018

Mudahnya Menanam Cabai Pelangi Razzamatazz

Hai, semua!

Kebetulan beberapa hari yang lalu ada yang bertanya apakah saya masih memiliki bibit cabai pelangi atau tidak. Sayang sekali, tapi sudah satu tahun belakangan ini saya tidak menanam cabai lagi. Bicara soal cabai pelangi, saya pun jadi teringat dengan artikel ini deh, sayang kalau hanya bertahun-tahun teronggok dalam draf. Jadi, tahun 2015 silam, penjualan benih cabai unik dan hias secara online benar-benar marak dan menjamur di tengah masyarakat. Mulai dari cabai berwarna pelangi, hitam, dan cabai dengan bentuk-bentuk aneh lainnya. Penasaran akut dengan bagaimana rupanya, saya tak mau ketinggalan dong untuk ikutan menanam cabai hias di rumah. Akhirnya saya pun memesan berbagai jenis benih cabai unik dari beberapa penjual. Dari sekian banyak cabai yang dicoba untuk ditanam, salah satu yang berhasil tumbuh besar adalah cabai razzamatazz.


Sekilas mengenai cabai ini, razzamatazz adalah varietas cabai dalam genus Capsicum dengan nama ilmiah Capsicum annuum longum group. Sebagai tanaman menahun (perennial plant), varietas ini dapat bertahan hingga lebih dari dua tahun. Razzamatazz memiliki tipe pertumbuhan pendek (dwarf) dengan tinggi sekitar 30-50 cm sehingga ideal untuk ditanam dalam pot atau polybag. Tanaman ini menghasilkan buah yang produktif, cabainya tumbuh menjulang menghadap langit dan berdiri tegak pada tangkainya. Buahnya berwarna-warni dengan warna menyesuaikan tingkat kematangan dari cabai tersebut. Warnanya akan berubah dari ungu tua saat muda lalu menjadi merah menyala ketika masak. Begitu pula dengan tingkat kepedasannya yang  akan semakin meningkat.

Bagi saya, cara menanam cabai razzamatazz sama saja seperti menanam cabai pada umumnya. Mengikuti beberapa saran agar benih direndam dulu sebelum disemai, maka saya rendam benih cabai tersebut selama dua belas jam dalam air irisan bawang merah. Untuk penyemaian, saya hanya menggunakan media tanam siap pakai agar tidak repot dipindah saat sudah berkecambah, lalu pesemaian tersebut langsung diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari penuh. Boleh juga menggunakan metode penyemaian dengan media rockwool dan tissue atau kain yang dibasahi. Tidak masalah, kok. Dalam kurun tiga hari (biasanya lima hari hingga dua minggu), benih yang ditanam sudah berkecambah. Bibit cabai siap pindah tanam dari pesemaian ke pot atau tanah pada usia 14 hari atau bila tanaman telah berdaun 2-4 helai dengan tinggi 10 cm. Jangan sampai terlambat dipindah tanamkan karena dapat menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai itu sendiri. Persiapan media tanam sangat penting sekali terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Media tanam yang saya pakai adalah campuran tanah gembur, sekam, dan pupuk kandang. Diameter pot yang digunakan sebesar 30 cm untuk satu tanaman cabai. Hingga tahap ini, saya belum menggunakan pupuk kimia.

Bibit usia tiga hari: batang dan daun tanaman razzamataz terlihat lebih gelap cenderung ungu dibandingkan dengan tanaman cabai lainnya 

Memasuki usia satu bulan, baik pupuk organik maupun kimia dapat mulai diberikan. Bila boleh jujur, saya sendiri kurang menyukai penggunaan NPK dan lebih memilih menggunakan pupuk guano sebagai pupuk lepas lambat setiap dua minggu sekali. Kompos dan pupuk kandang dapat ditambahkan setiap satu bulan sekali. Untuk pupuk kimia, saya mengaplikasikan pupuk daun setiap dua minggu sekali. Pemberian zat pengatur tumbuh juga dapat diberikan setiap dua minggu sekali untuk merangsang munculnya bunga dan buah. Tentu saja, semua pupuk harus diberikan secukupnya dan sesuai dosis yang dianjurkan karena jika tidak, tanaman cabai akan layu dan kemudian mati.

Kelopak bunga razzamatazz berwarna ungu

Saat usia dua bulan, tanaman cabai razzamatazz akan mulai berbunga, meski awalnya akan lebih sering rontok dengan sendirinya. Seperti kebanyakan cabai pelangi, razzamatazz juga memiliki bunga berwarna ungu muda. Unik, ya? Kalau cabai sudah siap berbuah, jangan lupa untuk pasang ajir yang kecil saja supaya membantu menopang tegaknya tanaman. Biasanya tanaman cabai akan berbuah pada usia tiga bulan. Buah cabai razzamatazz akan mengalami perubahan warna, yakni ungu tua-ungu muda-kuning-jingga-merah. Lantas bila cabai sudah berubah merah dan matang, apakah razzamatazz bisa dikonsumsi selayaknya cabai biasa? Tentu bisa dong, baik dalam kondisi mentah maupun dimasak. Menurut laman web salah satu produsen benih razzamatazz di Inggris, Mr. Fothergill's, cabai ini merupakan sumber vitamin C, antioksidan dan serat yang sangat baik. Dengan tingkat kepedasan menengah, kita dapat menambahkan razzamatazz ke dalam masakan untuk menambah cita rasa pedas dan warna pada salad, misalnya. Konsumsilah secara bijak, jangan berlebihan. Namun, saya pribadi kurang menyukai tekstur dan rasa dari razzamatazz ini. Sebagai seorang penikmat cabai, saya rasa razzamatazz lebih baik dijadikan sebagai cabai ornamental saja deh ketimbang untuk dikonsumsi bersama gorengan atau dibuat sambal. Haha.

Cabai-cabai bermunculan!

Razzamatazz mampu bertahan dalam kondisi  cuaca buruk. Cabai ini sangat menyenangi sinar matahari penuh dan tidak pernah berhenti berbuah sepanjang musim panas. Pemangkasan tidak begitu diperlukan karena cabai ini termasuk tipe pendek dan rimbun. Boleh saja dilakukan pangkas tunas agar tanaman cabai tumbuh dan berbuah lebih lebat. Sama seperti tanaman cabai lainnya, razzamatazz juga banyak membutuhkan air, tapi tidak boleh berlebihan. Terlebih lagi, media tanam cabai sangat mudah sekali kering pada musim panas sehingga dapat menyebabkan daun layu dan rontok. Oleh karena itu, penyiraman dapat dilakukan sebanyak dua kali sehari (pagi dan sore hari), kecuali saat hujan. Bila musim hujan datang (off season), produksi razzamatazz akan mengalami penurunan.

Beryukurlah kita hidup di negara beriklim tropis, menanam cabai pun menjadi lebih mudah dibanding negara empat musim sehingga tanaman cabai tidak perlu melewati fase dorman. Cabai pun dapat dipanen dan dinikmati kecantikannya sepanjang tahun. Razzamatazz dapat hidup menahun sehingga perakarannya pun berkembang dan menjadi semakin kuat. Kadang hingga tidak ada ruang tersisa lagi bagi media tanam dalam pot. Pada saat inilah, mengganti pot dengan ukuran yang lebih besar dan penambahan media tanam sangat dianjurkan.

Usia enam bulan

Yang paling menyebalkan dari menanam cabai tentu saja serangan hama! Kutu kebul dan tanaman cabai sepertinya adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan deh. Namun, menurut saya razzamatazz ini patut diacungi jempol loh, sebab cukup tahan dari serangan kutu kebul yang menyerang tanaman cabai lain di sekitarnya. Penggunaan insektisida pun jarang sekali, sedangkan fungisida dapat dikocor di sekitar perakaran setiap satu bulan sekali. Tidak banyak masalah yang ditemukan selama menanam razzamatazz, kecuali pasukan semut yang bersarang dan bertelur di dalam media tanam. Biasa deh, problematika tabulampot.

Cukup berwarna, ya!

Dalam pot, tanaman razzamatazz dapat bertahan hingga dua tahun lebih sebelum akhirnya terbengkalai dan produktivitasnya ikut menurun drastis. Razzamatazz adalah cabai pelangi yang saya rekomendasikan untuk ditanam oleh pemula karena perawatannya yang mudah dan tidak rewel. Tanaman cabai pelangi berbagai varietas umumnya dijual dengan kisaran harga 30.000 hingga 80.000 rupiah. Biasanya di pameran flona yang digelar tiap tahun, cabai hias dan unik banyak diminati dan dicari kaum ibu rumah tangga. Memang sangat cantik untuk ditaruh di pelataran rumah. Akan membuat setiap orang yang melihatnya berdecak kagum dan memuji keindahannya.

Sebenarnya, razzamatazz bukanlah cabai hias pertama yang saya tanam. Saya  lebih dulu mencoba menanam Bolivian rainbow, hanya saja hasilnya tidak sesuai seperti yang dibayangkan. Cabai yang muncul ternyata berbentuk bulat menyerupai cherry bomb pepper dan sama sekali tidak berwarna pelangi. Entahlah, bisa saja benihnya tertukar saat pengemasan atau mungkin yang dikirimkan memang benih F2 (ih, su'udzon saja). Meskipun begitu, cabai tersebut sangat cantik dan layak dipajang sebagai pemanis pekarangan rumah, serta dapat dikonsumsi dengan tingkat kepedasan yang cukup rendah. Namun berbeda dengan razzamatazz, cabai satu ini sangat disukai oleh hama terutama kutu kebul. Karena sulit ditanggulangi, maka bolivian rainbow hanya dapat bertahan selama satu tahun dan kemudian mati.

Katanya sih bolivian rainbow sayy

Oiya, postingan ini dibuat hanya sekadar untuk berbagi pengalaman menanam cabai razzamatazz, ya. Barangkali bermanfaat bagi yang membacanya. Senang  deh rasanya bisa berbagi, walaupun saya sendiri masih harus banyak belajar lagi. Baiklah, selamat berkebun semuanya!

Share:

May 5, 2018

Kedatangan Para Bayi Mungil

Pagi ini, kami dikejutkan dengan munculnya sekumpulan "bayi mungil" yang sedang berbaris manis di atas daun-daun tanaman kami. 

Inilah mereka. Imut, kan?
Share:

Apr 9, 2018

The Well Ran Dry

I logged into Path last night. A ghost town. I scrolled back until I found them.. the portraits I used to draw.

Looking at potential I decided not to keep.

They aren't perfect, but they’re proof. Proof that I used to be someone who could create things. Looking at them now feels like looking at a stranger’s life.

Somewhere after 2014, I just.. stopped. I let it go. Now, the skill is gone. The muscle memory is dead. It’s a strange kind of grief, realizing you’ve lost the only thing that made you feel like you were "good" at something.

I want to blame life or timing, but I can’t. This was on me. I had a spark and I let it go cold. Now I’m just left with the noise of daily life and the realization that I traded a talent for a void.

The ink dried up. The hand stayed.

Share:

Total Pageviews