Jan 26, 2016

Mengenal Chaya: Si Pepaya Jepang yang Sebenarnya Bukan Pepaya


Update – November 2017

Setelah dua tahun tidak lagi menanamnya, barulah saya tahu kebenaran tentang tanaman ini. Agak lucu juga, ternyata selama ini saya ikut salah sebut.
Mei lalu, seorang teman pena membaca tulisan ini dan memberikan info sekaligus mengoreksi saya. Akhirnya, misteri nama asli tanaman ini terjawab. Alhamdulillah, ya.

Kilas Balik 2015: Perkenalan Pertama

Akhir 2015, saya dibawakan sepuluh batang tanaman yang dikenal sebagai daun pepaya jepang. Daunnya mirip pepaya biasa (Carica papaya), tapi ukurannya lebih kecil. 

Soal rasa? Sama sekali tidak pahit. 
Cocok sekali untuk campuran tumis ikan teri, direbus sebagai lalapan, atau dibuat sayur urap. Mirip daun singkong, tapi versi juara. Teksturnya lebih renyah, empuk, dan tidak alot. 

Ibu saya, entah kenapa, nekat menyeteknya. Batang dipotong sepanjang 30 cm, lalu ditancapkan ke pot. Jujur saja, awalnya saya skeptis. Dalam kepala saya waktu itu: mana mungkin pepaya tumbuh dari stek batang? Tapi seminggu kemudian, tunas baru mulai muncul. Tiga minggu? Daunnya sudah rimbun, hijau muda, dan terlihat segar.

Pengalaman Pribadi Menanam Chaya di Pot

Meskipun batang terlihat langsing, chaya kokoh dan daunnya cukup rimbun. Karena ditanam di pot dan sering dipangkas, tinggi tanaman tetap terkontrol. Rasanya menyenangkan deh bisa memanen sendiri, seperti dapat hadiah kecil dari tanaman yang kita rawat diam-diam.

Menurut pengalaman saya, chaya tidak butuh perawatan khusus:
  • Ketahanan: Tahan cuaca panas maupun hujan. Saya jarang menjumpai hama. Tapi kalau hujan terus-menerus, satu pot saya pernah busuk. Pelajaran penting: jangan terlalu banyak air di awal penanaman.
  • Penyiraman: Cukup dua kali sehari saat cuaca terik.
  • Pemupukan: Pupuk kandang atau pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) seperti NPK sebulan sekali, dosis menyesuaikan ukuran pot.
  • Masa Panen: 1,5 bulan setelah stek, daun sudah bisa dipetik. Selanjutnya bisa dipanen setiap bulan.
Hati-hati Getah: Saat panen, jangan sampai terkena getahnya karena bisa memicu rasa perih dan gatal, terutama pada kulit sensitif. Cukup cuci dengan sabun, dan rasa gatalnya akan berangsur hilang.

Stek pepaya jepang di pot. Satu pot sempat mati karena busuk akibat hujan yang datang terus-menerus

Meluruskan Salah Kaprah soal “Pepaya Jepang”

Waktu itu, info tentang tanaman ini masih sangat langka. Jadi wajar kalau saya, dan mungkin banyak orang lain, ikut salah kaprah. Nama asli tanaman ini adalah chaya, atau bayam pohon (Tree Spinach). Nama ilmiahnya cukup bikin dahi berkerut: Cnidoscolus aconitifolius.

Chaya, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai pepaya jepang, nyatanya bukan pepaya dan jelas bukan dari Jepang. Nama itu kemungkinan hanya trik pasar supaya terdengar eksotis. Mirip kasus pepaya bangkok atau california yang sebenarnya hasil pemuliaan dosen IPB, tapi sering dilabeli impor. Kita memang sering terjebak label, bukan?

Chaya berasal dari Semenanjung Yucatán, Meksiko, dan sudah menjadi makanan favorit bangsa Maya selama berabad-abad. Tanaman ini adalah semak menahun yang tumbuh cepat dan besar.

Menariknya, Chaya punya beberapa subspesies.
  • Chaya Brava: tumbuh liar, duri halus
  • Chaya Mansa: dibudidayakan tanpa duri
Grup kultivar Chayamansa dibagi lagi menjadi empat jenis berdasarkan bentuk daun: Chayamansa, Estrella, Picuda, dan Redonda. Sepertinya yang saya tanam adalah kultivar ‘Picuda’, makanya bentuk daun yang kita temui kadang berbeda.

Chaya berkerabat dekat dengan singkong (Manihot) dan jarak pagar (Jatropha), semuanya dalam keluarga Euphorbiaceae. Jadi wajar kalau batangnya mengeluarkan getah putih yang agak menyengat. Kalau memanen atau memangkas, sarung tangan wajib dipakai ya!

Chaya di pot yang lebih besar.

Nutrisi dan Keamanan

Daun chaya sering disebut superfood. Kandungan zat besinya lebih tinggi dibanding bayam, serta kaya kalium, kalsium, dan vitamin A. Banyak yang percaya chaya membantu melancarkan sirkulasi darah, menjaga kolesterol, dan punya segudang manfaat lainnya.

Namun, seperti singkong, daun chaya mengandung glikosida sianogenik yang bersifat racun.

Cara Mengolah Chaya yang Benar

  • Rebus minimal 5–20 menit agar racun menguap.
  • Jangan gunakan panci aluminium karena bisa memicu reaksi beracun dan menyebabkan diare.
  • Rebus tanpa menutup panci agar gas HCN bisa keluar, dan hindari menghirup uapnya.
Air rebusannya sering disebut menyehatkan karena kaya vitamin C. Jika masih ragu soal sisa toksin, tidak ada salahnya memilih untuk tidak mengonsumsinya.

Inspirasi Menu Chaya

Selain menu Indonesia, daun chaya bisa diolah menjadi banyak hidangan: sup, sayur, nasi goreng, pasta spageti, salad, lasagna, hingga pizza. Chaya juga bisa dijadikan minuman seperti teh, jus, atau smoothie. Karena masih ada silang pendapat soal aman atau tidaknya dikonsumsi mentah, jadi memang sebaiknya daun direbus dulu.

Bunga chaya

Panduan Lengkap Propagasi (Cara Menanam)

Chaya tidak menghasilkan biji atau buah. Ia biasanya hanya berbunga putih yang berubah menjadi polong (seed pod), lalu rontok dengan sendirinya. Pembiakan hanya bisa dilakukan melalui stek batang:
  • Media Tanam: Stek batang sepanjang 15–60 cm di pot atau tanah. Buang semua daunnya, siram teratur.
  • Drainase: Jangan terlalu basah, batang stek sangat rentan busuk.
  • Lingkungan: Suka sinar matahari penuh, tumbuh optimal di temperatur 25°C ke atas, ketinggian 0–1000 mdpl.
  • Kondisi Tanah: Bisa tumbuh di segala jenis tanah. Pupuk opsional, tapi daun akan lebih lebat jika diberi pupuk.
  • Jarak Tanam: 1–2 meter jika di lahan terbuka; jika ingin sebagai pagar hidup, cukup 1 meter antar tanaman.
Chaya bisa tumbuh sampai 6 meter, tapi mesti rajin dipangkas di bawah 2 meter agar tetap setinggi manusia dan mudah dipanen.

Sekarang daun chaya mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga terjangkau. Bibitnya pun banyak dijual online. Coba tanam di rumah, selain untuk sayuran, juga cantik sebagai pagar hidup.

Itulah sedikit cerita dan pengalaman saya menanam chaya, tanaman yang selama ini kita kenal sebagai “pepaya jepang”, padahal bukan pepaya, dan jelas bukan dari Jepang, ya!

Buat saya pribadi, chaya bukan cuma soal nama atau kandungan gizinya, tapi soal pengalaman kecil di rumah: menyetek batang, menunggu daun pertama muncul, lalu memanennya untuk dimasak bersama keluarga.

Kalau kamu pernah menanam atau mengolah chaya dengan cara yang berbeda, silakan berbagi di kolom komentar. Siapa tahu, dari cerita-cerita kecil seperti ini, kita bisa mengenal tanaman di sekitar kita dengan cara yang lebih dekat ☺
Share:

Total Pageviews